Minggu, 14 April 2013

Substansi ‘nggerre pa?’ Di Kalibeber Wonosobo



Substansi ‘nggerre pa?’ Di Kalibeber Wonosobo

            Setelah tinggal di PPTQ al-Asy’ariyyah, Desa Kalibeber, selama hampir tujuh tahun terakhir ini, saya masih penasaran dengan gaya tutur masyarakat umum di semua liniea – untuk menyela ungkapan-ungkapan baru atau ungkapan yang kurang dipercaya kekridibelannya – yang menurut saya itu tutur kritisme nalar – jika melihat acuan sifat dasar Bangsa Isra’il kaum Nabi Musa. Ternyata gaya tutur itu juga merambah ke desa tetangga di daerah ini, yangmana keilmuan qur’an dan pondok pesantren salaf[1] – salaf bukan faham ‘salafi’ yang berkembang pada abad ke-20-an – masih sangat kental akan ke-NU-an.
            Melihat fenomema kultur budaya lokal, seperti karing “berjemur matahari pagi”, angom[2] “mandi air hangat, ngodo’[3] “perjalanan jauh tanpa kendaraan”, dan nggerre pa “masak sih” itu sendiri – cuaca dingin, masih dekat daerah pegunungan dieng dan sindoro sumbing. Untuk kalibeber sendiri adalah produsen opak “krupuk berbahan dasar tepung kanji singkong dengan campuran seledri” terbesar yang bertentangan denga cuacanya – selain dingin juga hujan yang hampir setiap hari. Jika tempe kemul atau ‘mendoan’ “tempe beriris tipis dibalut tepung terigu atau ‘istilah gorengan setengah matang’ saat digoreng” dan megono “nasi hangat yang dicampur parutan kelapa dan bahan sayuran seperti buncis, kacang panjang, dan kubis” khusus yang berbeda dengan megono di daerah Pekalongan.
            Kembali kebahasan awal, tentang bahasa tutur ‘nggere pa’, yang dapat membuat kebudayaan Kalibeber ini bisa bersinggungan dengan Pemerintahan Negara pada masa Presiden Soeharto ketika al-maghfurlah KH. Muntaha Al-hafidz ‘Mbah Mun’[4] yang monuver politiknya dapat membuat Al-Qur’an Akbar[5] untuk mengingatkan pemerintahan yang sudah lupa pada Al-Qur’an secara halus. Yang mencengangkan penulis adalah banyaknya pelajar di UNSIQ adalah pelajar pendatang luar Kota Wonosobo bahkan luar Pulau Jawa, namun kebanyakan di kota ini malah menjadi perantau – di luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Irian Jaya, dan TKI – yang disebabkan kawin muda menjadi tradisi yang belum hilang untuk daerah pedesaan.[6]nggere pa?” atau “why” atau “masak sih?”  adalah ‘pendidikan dasar’ yang merangsang kembali daya pikir manusia yang ‘berkontinyu’ bukan ‘stagnansi’ – kritis picik atau kita kenal pesimis.
Fakta yang ada untuk Pemerintahan di Wonosobo – khususnya PNS – adalah bukan penduduk asli, keluhan menjadi PNS di daerah pegunungan sering kali muncul dikarenakan kesenjangan sosial dengan pemilik tanah yang menguasainya.[7] Berbeda dengan keadaan sekarang. Namun dari pengalaman penulis sendiri yang sudah pernah hidup di Kalimatan – ketika masih SD sampai SMP – pernah melihat sendiri bagaimana kehebatan mereka – buruh di desa namun di sana ketangkasannya jangan dipertanyakan lagi – yang kebanyakan bekerja di perkebunan sawit. Begitu juga kebringasan mereka yang merantau di daerah perkotaan seperti Jakarta, mereka terkenal juga akan kekuatannya – rumor dari beberapa orang Dieng dan Wadaslintang yang pernah penulis mendatangi kenalan-kenalan orang tua dari Kalimantan dan ketika penulis ikut bekerja di Kalilembu[8] – yang mereka sendiri heran – untuk perantau yang biasa-biasa.
Akses jalan untuk ke Wonosobo juga tidak jauh dari nggere pa-nya itu. Bayangkan saja, jalan-jalan pusat penghubung Wonosobo dengan kota lain berliku-liku, yang hanya bisa dilewati oleh dua kendaraan – mobil dan truk – yang samping kiri-kanan jalan adalah jurang dan perumahan. Sampai-sampai jalan arah Wonosobo-Purworejo yang longsong – Daerah Kepil longsornya sangat curam, sekarang akses ditutup, tidak bisa dilewati kecuali lewat jalan alternatif untuk kendaran pribadi (motor dan mobil) dan untuk pemakai bus harus pindah bus setelah lewat jalan alternatif – sudah lebih dari satu tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah. Ini jelas sangat merugikan para distributor kapitalis jika dilihat dari kaca mata perekonomian, dan saat ini kelangkaan BBM untuk Wonosobo Kota-Dieng menjadi momok yang memperihatinkan.

Kalibeber, 14 April 2013    
 
             



[1] Jika Pondok Salaf ini terkenal dengan kekentalan tradisi lokal yang pengajarannya mengaji kitab kuning berbahasa jawa. Jika dilihat banyaknya sekolah-sekolah yang berdiri – baik negeri maupun swasta – disini dapat dikatakan sebagai salaf semi modern dengan di kuatkan adanya Universitas SAINS Al-Qur’an (UNSIQ) yang dulu sekitar tahun 2000-an masih bernama Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ).
[2] Di Desa Kalibeber ada sumber air belerang di kali serayu untuk mandi penduduk bersama-sama khusus laki-laki dari kecil sampai tua, selain yang sudah terkenal – aset pemerintah seperti pemandian dan kolam renang umum – di Desa Kalianget juga ada di atasnya Desa Manggisan.
[3] Kebiasaan ‘habit’ untuk orang tua dan anak-anak yang tinggal di dataran tinggi, seperti Dieng, Desa Dero Duwur – tempat dimakamkan KH. Asy’ari dan KH. Muntaha Al-hafidz beserta keluarga dan di sana juga dibangun sekolahan cabang SMA Takhssus Al-Qur’an yang ada di Kalibeber – ke bawah sampai Kalibeber ketika pergi bekerja, ke pasar, dan ke sekolah. Banyaknya dataran tinggi.  
[4] Sapaan akrab Beliau untuk masyarakat lokal Wonosobo, khususnya untuk Kalibeber dan sekitarnya.
[5] Penulis baru tahu sudah ada lima al-Qur’an, yang pertama diserahkan sendiri oleh Beliau kepada Pemerintah yang diterima oleh Presiden RI Era Orde Baru (ORBA). Ada juga yang sampai Pemerintahan Brunai Darussalam. Lebih jelasnya, silakan baca biografi KH. Muntaha Al-Hafidz yang ditulis Drs. Samsul Munir. Tulisan ini sebatas dari pengetahuan penulis saja.
[6] Dengan kawin muda – karena kurang minatnya anak-anak untuk bersekolah dengan alasan biaya sebab luasnya lahan pertanian “mata pencarian utama” hanya dimiliki oleh beberapa pihak, kebanyakan malah menjadi buruh – bisa membantu meringankan beban orang tua, asumsi dari pengamatan penulis. Padahal untuk Bantuan Operasi Sekolah (BAKSOS) dari pemerintah diprioritaskan untuk pelajar daerah.
[7] Ini juga penulis dapat dari cerita lisan seorang wakil kepala KUA di Kecamatan Sepuran ketika Kuliah Praktek Lapangan (KPL) bulan Februari 2013. Program KPL dilakukan Mahasiswa Syari’ah – ini berlaku untuk semua fakultas semua jurusan dan penempatannya juga berbeda menurut masing-masing fakultas (di UNSIQ Tarbiyah, Dakwah, Ekonomi, TI, AKPER, AKBID, Sastra Inggris) – di Kantor Urusan Agama (KUA) dan Pengadilan Agama (PA) selama empat puluh satu (41) hari. Masa ORBA kesejateraan dan pendidik masih kurang, pendapatan ‘gaji’ PNS dengan Petani lebih banyak petani.   
[8] Di sana ada makam yang sekarang sering diziarahi para peziarah wali setelah KH. Abdurraman Wahid ‘Gus Dur” berziarah kesana. Makam Mbah Selomanik. (http://diengtravel.blogspot.com/2012/04/ziarah-ke-makam-wali-7-di-wonosobo.html)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar