Tampilkan postingan dengan label penyair. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penyair. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

WS Rendra_"sajak sebatang lingsong"




WS Rendra_"sajak sebatang lingsong"

lungsap sebatang lingsong
melihat indonesia raya
mendengar seratus tiga puluh juta rakyat
dan di langit tua tiga cukong mengangkang berak di atas kepala mereka

matahari terbit fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
aku bertanya tetapi pertanyaaanku membenturi meja-meja kekuasaan yang macet
dan papan tulis-papan tulis para pendidik yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak-kanak menghadapi satu jalan panjang tanpa pilihan tanpa pepohonan tanpa danau persinggahan tanpa ada bayangan ujungnya

menghisap udara yang disemprot deodoran
aku melihat sarjana-sarjana menganggur berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita-wanita bunting antri uang pensiun
dan di langit para teknokrat berkata bangsa kita adalah bangsa yang malas
bahwa bangsa mesti dibangun mesti diabrik disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

gunung gunung menjulang langit pesta warna di dalam senja kala
dan aku melihat protes terpendam terhimpit di bawah tilam
aku bertanya tetapi pertanyaanku membentur jidat tiga penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan renbulan sementara ketidak-adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan termangu-mangu di kaki dewi kesenian

bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya di bawah iklan berlampu nion
berjuta-juta harapan ibu dan bapa menjadi kebalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samudera

kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing
dektat-dektat hanya boleh memberi metode tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya keluar ke desa-desa
menghayati sendiri semua gejala dan menghayati persoalan yang nyata

sajakku, pamflet masa darurat
apalah artinya reda reda kesenian bila terpisah dari derita lingkungan
apalah artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan
kepadamu, aku bertanya


ITB Bandung 17 Agustus 1977
       

Minggu, 31 Maret 2013

raja khauf "al Hikam" oleh Mbah A. Mustofa Bisri

Karena banyak yang bertanya, aku akan kulwitkan sedikit tentang kitab Al-Hikam yang kemarin aku khatamkan bersama santri2, insyaAllãh. Al-Hikam merupakan salah salah satu karya monumental Ibn ‘Athaillah As-Sakandary (Abul Fadhal Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin ‘Athaillah; wafat tahun 709H). Al-Hikam merupakan mutiara-mutiara cemerlang bagi meningkatkan kesadaran spiritual, tidak hanya untuk para saalik dan murid-murid tasawuf, tapi juga untuk umumnya para peminat olah batin. Buku yang tidak terlalu tebal ini, tidak hanya dibaca dan didiskusikan tapi juga disyarahi oleh banyak ulama antara lain oleh sufi besar Ibnu ‘Ubad; Ibn ‘Ajiebah; Syeikh Syarqawi; Syeikh Syarnubi; dll. Bahkan seorang alim dari Faz, Syeikh Zarrouq (Ahmad bin Ahmad bin bin Muhammad Al-Faasi; 846-899H) yg kemana-mana membawa Al-Hikam, telah mensyarahi karya Ibn ‘Athaillah ini tidak kurang dari 30 syarah. Al-Hikam juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk ke dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Dari keluargaku sendiri, pamanku Almarhum KH Misbah Mustofa sudah menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa; adik saya Almarhum KH Adib Bisri telah menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia; dan kakakku Almarhum KH Cholil Bisri juga membuat syarah dlm bahasa Indonesia yg diberi judul "Indahnya Bertasawuf."

 

WANITA CANTIK

Di tengah-tengah himpitan daging-daging doa
di pelataran rumahmu yang agung
aku mengalirkan diri dan ratapku
hingga terantuk pada dinding mustajab-Mu
menumpahkan luap pinta di dadaku
Ku baca segala yang bisa ku baca
dalam berbagai bahasa runduk hamba dari tahlil ke tasbih,
dari tasbih ke tahmid, dari tahmid ke takbir,
dari takbir ke istighfar, dari istighfar ke syukur,
dari syukur ke khauf, dari khauf ke raja, dari raja ke khauf
raja khauf
khauf raja
raja khauf
khauf raja
sampai tawakkal

Di samping bil-barakah, para pensyarah dan penterjemah itu pastilah mula2 terpikat oleh ungkapan2 istimewa Syeikh Ibn ‘Athaillah dan dan kandungan isinya yang dalam. Selama ini orang mungkin hanya mengenal aphorisma, ajaran yang dirumuskan secara singkat dan padat, melalui Peribahasa Sulaiman dalam Perjanjian Lama atau karangan2 Nietzsche; di kalangan kaum muslimin mungkin melalui Nahjul Burdah-nya sayyidina Ali karramaLlahu wajhah. Namun agaknya aphorisma Ibn ‘Athaillah ini memang lain. Berbeda dg kebanyakan ungkapan2 para sufi terkenal seperti Rabi’ah Al-‘Adawiyah; Rumi; ‘Atthar; dlsb – yg juga diminati oleh kalangan kalangan sastrawan di kita—umumnya orang hanya menganggap dan memperlakukan Al-Hikam ‘semata-mata’ sebagai karya tasawuf. 

Tiba-tiba sebelum benar-benar fana melela dari arah Multazam
seorang wanita cantik sekali
masya Allah tabarakAllah !
Allah, apa amalku jikak kurnia
apa dosaku jika coba ?
Allah, putih kulitnya dalam putih kerudungnya
Indah sekali alisnya
Indah sekali matanya
Indah sekali hidungnya
Indah sekali bibirnya
Dalam indah wajahMu

Banyak kiai sepuh –terutama dari kalangan thariqah—yg mengajarkan kitab ini kepada santri-santri tua. Dengan kata lain, Al-Hikam lebih diperlakukan sebagai kitab pelajaran akhlak dan tasawuf belaka. Padahal, paling tidak menurut saya, aphorisma Al-Hikam dari segi bahasanya pun luar biasa indah. Kata dan makna begitu padu, saling mendukung, melahirkan ungkapan2 yang menggetarkan. Ratusan hikmah (sekitar 284) yang indah diakhiri dengan munajat Syeikh ‘Athaillah yang juga sangat indah, merupakan untaian mutiara yang telah mempesona jutaan hamba pencari keindahan Sang Maha Indah. Utk sedikit memberi gambaran kpd Anda yg belum pernah membaca atau mendengar mutiara2 Al-Hikam, akan aku sampaikan 1 mutiara darinya. Bismillahirrahmaanirrahiim
من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل 
"Min ‘alaamatil i’timaadi ‘alal ‘amali nuqshaanur rajaa-i ‘inda wujuudiz zalali"
Termasuk tanda pengandalan pada amal ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan. Kita dituntut beramal, namun untuk keselamatan dan kebahagiaan abadi kita, kita tidak boleh mengandalkan amal kita. Bahkan Nabi sendiri ketika ditanya apakah seorang mukmin bisa masuk sorga dg mengandalkan amal-ibadahnya, beliau menjawab tegas:"Tidak”. Bahkan beliau juga menegaskan “Walaa anaa illa an yataghammadaniyaLlahu birahmatiHi wamaghfiratiHi” (Tidak juga aku, kecuali Allah melimpahiku dengan rahmat dan ampunanNya).

Allahku, ku nikmati keindahan dalam keindahan
Di atas keindahan di bawah keindahan
Di kanan-kiri keindahan
Di tengah-tengah keindahan yang indah sekali
Allahku, inilah kerapuhanku ! tak kutanyakan kenapa
Engkau bertanya bukan ditanya kenapa
Tapi apa jawabku ?—ampunilah aku—tanyalah jua yang ku punya kini :
Allahku mukallafkah aku dalam keindahanMu ?  

Bagi kalangan sufi, mengandalkan amal merupakan sikap angkuh yang tidak bisa dimengerti. Pertama, karena hamba yang beramal tidak tahu pasti apakah amalnya diterima atau tidak oleh Allah; kedua, karena ia bisa beramal semata-mata karena Allah. Lagi pula biasanya orang yang mengandalkan amalnya, akan merasa puas diri dan mengecilkan sesamanya yang dipandangnya tidak atau kurang beramal seperti dia. Nah, apakah kita termasuk orang yang mengandalkan amal kita ataukah kita termasuk hamba yang tahu diri dan hanya mengandalkan Allah, syeikh Ibn ‘Athaillah memberi petunjuk mengenai tanda-tanda orang yang mengandalkan amalnya yakni antara lain: berkurangnya harapan (istilah tasawufnya: RAJÃA) orang yang beramal itu ketika dia berbuat kesalahan. RAJÃA, berharap kasihsayang dan fadhal Allah merupakan imbangan dari KHAUF, cemas atau khawatir akan hukuman dan Seorang hamba Allah, bagaimana pun keadaannya tdk boleh kehilangan RAJÃA. Karena kehilangan RAJÃA sama dg berburuk sangka trhdp Allah. Para ‘aarifiin, mereka yg makrifat kpd Allah, tdk pernah kehilangan RAJÃA; karena mereka tdk melihat apalagi mengandalkan amal mereka. 
"Wallahu a'lam bishswãb." Demikianlah; semoga ada manfaatnya

Rabu, 20 Maret 2013

BUKAN MENGAJARI, KEWAJIBAN KITA BELAJAR

Kita bukan manusia kurang ajar. Secara teknis dan teoritis, semua yang mensifati 'jenis' dalam perspektif ada dan tiada dan-atau terdulu dan pemula yangmana sudah dipahami oleh kita, sementara ini untuk tulisan ini dianggap improvisasi. sedangkan spontanitas, rekayasa, planing dan kemungkinan-kemungkinan akan kepastian dan-atau abu-abu (ketidak-pastian) kita kesampingkan dulu namun, sedikit akan disinggung. Nah, untuk fakta - diakui maupun tidak diakui pasti ada - juga sedikit kita telisik untuk menambah nilai, itu jika akan dinilai.
"kejanggalan yang akan kita temui dalam imajinasi minim referensi terkini ini wajib wajar bila memunculkan tawa - terlepas dari menghina atau men-sinisisme-kan - untuk menghilangkan penat di kepala."
Saya dapat inspirasi tulisan ini dari Penyair WS. Rendra saat menyimak beliau diwawancari dalam salah satu televisi swasta yang namanya 'Progam Impact', disitu Host-nya Peter F. Glontha (2004). Dalam perbincangan itu WS. Rendra mengatakan, "yang tidak bisa berubah adalah 'hukum alam' tetapi, tidak boleh meremehkan 'hukum masyarakat' dan 'hukum akal sehat', boleh dia tidak puas dan lalu mengembangkan dan merubahnya namun, tidak boleh meniadakannya." dalam konteks Indonesia masa depan pembangunan dan pembaharuan. Imbuhnya, "membangun kesadaran baru dan cara baru untuk memandang hal-hal lama."....bersambung.. (silakan mengembangkan pengetahuan kita)

Minggu, 10 Februari 2013

"Kenduri Cintaku" oleh: Emha Ainun Nadjib.

Sudah terbunuh beribu kali Habilku oleh Qabil Indonesiaku.
Sudah karam beribu kali Kapal Nuhku oleh bandang banjir Indonesiaku.
Sunyi sepi jiwa Yunusku Tak kunjung lepas dari panas perut Indonesiaku.
Lunglai baja besi kapak Ibrahimku di sela reruntuhan berhala-berhala Indonesiaku.
Putus leher beribu-ribu Ismailku. Oleh gigir pedang jahiliyah Indonesiaku.
Terbelah laut dan tenggelam Firaun oleh tongkat Musaku. Tongkatku patah, lahir Firaun demi Firaun berwajah Musa.
Kuthariqati seribu puasa pada setiap hari Daudku. Yang lahir bukan Sulaimanku , melainkan Bulqis klenik Indonesiaku.
Tetapi ketika merapuh tulang belulang Zakariaku Allah mengirim Yahya di pancaran wajahmu.
Cahaya menyebar wangi bayi Isa puncak adegan segera dikuakkan tabirnya.
Menuju penjelmaan kedua Nur Muhammad Kenduri cintaku menerangi semesta jagat.


@kendurucinta_feb'2012

Kamis, 31 Januari 2013

REVOLUSI

Orasi Mbah Nun, "Merajut Kembali Nusantara" 15 Januari 2013
                                     
saya yakin, bahwa video ini heboh dikalangan elit politik di Indonesia. saya aja merinding dengerinya, REVOLUSI, lhooo.... hmm.... kenapa merinding ? karena sangat minimnya pengetahuan dan keberanian di dalam diriku - umumnya Bangsa Indonesia - yang sudah telalu lama hidup tenang/damai "karena sudah terbiasa dengan hidup susah jadi, loyo dan gak terlalu tertarik dengan perubahan". hebatnya Mbah Nun ini, kalau menjelaskan REVOLUSI, sangatlah luas (saat mengikuti Maiyahan di acara Mocopat Syafaat, bantul-Jogja). baik revolusi diri sendiri sampai meluas ke revolusi elit politik negara yang sudah semrawut.
                                      
 http://www.youtube.com/watch?v=u_QOcr2HyVc
Dari bawah - petani di desa - menengah - pelajar/progam pendidikan para terdidik - dan atas - pemerintahan - bagi mereka para pengamat, baik budayawan sekelas Mbah Nun yang sudah hidup sejak zaman Seokarno (orla) sampai Reformasi dan sekarang, daya kritisnya sangat luar biasa. hal itu yang membuat kita yang berumur tanggung ini menjadi tercengang-cengang. hmm... kalau sudah mendengarkan Orasi Mbah Nun ini, silakan dibuka lagi cakrawala akal dan hati kita untuk lebih dalam lagi dalam memahami wawasan nusantara yang menjadi tempat lahir dan atau sampai tempat dikuburnya kita !