Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curhat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Juni 2017

DOA KEMERDEKAAN



KH. A. Mustofa Bisri:

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Ya Allah ya Tuhan kami,
Wahai Keindahan yang menciptakan sendiri segala yang indah,
Wahai Pencipta yang melimpahkan sendiri segala anugerah
Wahai Maha Pemurah yang telah menganugerahi
kami negeri sangat indah dan bangsa yang menyukai keindahan,
Ya Allah yang telah memberi kami kemerdekaan yang indah,
Demi nama-nama agungMu yang maha indah
Demi sifat-sifat suciMu yang maha indah
Demi ciptaan-ciptaanMu yang serba indah
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kepekaan menangkap dan mensyukuri keindahan anugerahMu.
Keindahan merdeka dan kemerdekaan
Keindahan hidup dan kehidupan
Keindahan manusia dan kemanusiaan
Keindahan kerja dan pekerjaan
Keindahan sederhana dan kesederhanaan
Keindahan kasih sayang dan saling menyayang
Keindahan kebijaksanaan dan keadilan
Keindahan rasa malu dan tahu diri
Keindahan hak dan kerendahan hati
Keindahan tanggung jawab dan harga diri
Anugerahilah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
kemampuan mensyukuri nikmat anugerahMu
dalam sikap-sikap indah yang Engkau ridlai
Selamatkanlah jiwa-jiwa kami
dari noda-noda yang mencoreng keindahan martabat kami
Pimpinlah kami, pemimpin-pemimpin kami, dan bangsa kami
ke jalan indah menuju cita-cita indah kemerdekaan kami
Kuatkanlah lahir batin kami
untuk melawan godaan keindahan-keindahan imitasi
yang menyeret diri-diri kami dari keindahan sejati
kemanusiaan dan kemerdekaan kami
Merdekakanlah kami dari belenggu penjajahan apa saja
selain penjajahanMu
termasuk penjajahan diri kami sendiri
Kokohkanlah jiwa raga kami
untuk menjaga keindahan negeri kami.
Ya Malikal Mulki Ya Allah yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa
Jangan kuasakan atas kami --karena dosa-dosa kami--
penguasa-penguasa yang tak takut kepadaMu
dan tak mempunyai belas kasihan kepada kami.
Anugerahilah bangsa kami pemimpin yang hatinya
penuh dengan keindahan cahaya kasihsayangMu
sehingga kasihsayangnya melimpahruahi rakyatnya
Jangan Engkau berikan kepada kami pemimpin
Yang merupakan isyarat kemurkaanMu atas bangsa kami
Wahai Maha Cahya di atas segala cahya
Pancarkanlah cahyaMu di mata dan pandangan kami
Pancarkanlah cahyaMu di telinga dan pendengaran kami
Pancarkanlah cahyaMu di mulut dan perkataan kami
Pancarkanlah cahyaMu di hati dan keyakinan kami
Pancarkanlah cahyaMu di pikiran dan sikap kami
Pancarkanlah cahyaMu di kanan dan kiri kami
Pancarkanlah cahyaMu di atas dan bawah kami
Pancarkanlah cahyaMu di dalam diri kami
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan ciptaanMu dan meresapinya
dapat menangkap keindahan anugerahMu dan mensyukurinya
Agar kami dapat menangkap keindahan jalan lurusMu dan menurutinya
dapat menangkap keburukan jalan sesat setan dan menghindarinya
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Agar kami dapat menangkap keindahan kebenaran dan mengikutinya
dapat menangkap keburukan kebatilan dan menjauhinya
Agar kami dapat menangkap keindahan kejujuran dan menyerapnya
dapat menangkap keburukan kebohongan dan mewaspadainya
Pancarkanlah cahyaMu, ya Maha Cahya
Sirnakan dan jangan sisakan sekelumit pun kegelapan
di batin kami.
Ya Maha Cahya di atas segala cahya
Jangan biarkan sirik dan dengki
hasut dan benci
ujub dan takabur
serakah dan kejam
kebencian dan dendam
dusta dan kemunafikan
gila dunia dan memuja diri
lupa akherat dan takut mati
serta bayang-bayang hitam lainnya
menutup pandangan mata-batin kami
dari keindahan wajahMu.
menghalangi kami
mendapatkan kasihMu
menghambat sampai kami
kepadaMu.
Ya Allah ya Tuhan yang Maha Pengampun
Ampunilah dosa-dosa kami
Dosa-dosa para pemimpin dan bangsa kami
Ya Allah ya Tuhan kami yang Maha Rahman dan Rahim,
Rahmatilah negeri dan bangsa kami
Merdekakanlah kami dan kabulkanlah doa kami.
Amin.


Kamis, 23 Februari 2017

PENGANGGURAN



Tunawisma, adalah idiom yang mengatakan bahwa ada ‘gembel’, ‘pengangguran’, ‘gelandangan’, dan ‘sampah masyarakat’, benar begitu? Kalo di perkotaan yang banyak membutuhkan tenaga kerja dan sibuk, itu hal yang wajar dikatakan seperti itu – manusia yang keluar dari konteks sibuk bekerja dan berkarya – namun, jika di ‘desa’ ada ‘pengangguran’ itu pertanyaan besar? Apalagi seorang lulusan universitas. Bisa jadi dia ‘gengsi’ menjadi masyarakat desa? Apabila umumnya bertani, mengolah tanah sendiri (kebun atau sawah) atau menjadi buruhnya pemilik tanah, mau tidak mau ia harus menjadi salah satu dari mereka, bukan?
Dan sistem kekerabatan yang begitu kental menjadi salah satu jalan untuk menjadi relasi dalam bekerja. Umur 25 tahun adalah pemuda-pemudi yang sudah seharusnya menjalani kekeluargaan. Ia lulus kuliah tanpa nyambi kerja sudah menginjak umur 27 tahun, minimnya skil dalam bermasyarakat dan berimprovisasi akan kreatifitas bekerja dan bekarya merupakan ‘hantu’ yang menakutkan. Kalo mencukupi dirinya sendiri bisa baik-baik saja, tetapi ia mempuyai kewajiban menjadi ‘manusia sosial’, dengan diri sendiri, keluarga, kerabat, tetangga, dan pemerintahan. Ia lagi fokus dengan ‘kepenganggurannya’, dengan prinsip tidak mengganggu yang lain dan menyalahi lainnya. Individu yang mendekati egois, itu bukan ‘nafas kehidupan’ desa.
Biasanya, jika ‘belum menikah’ ia belum dikenai ‘ikatan perjanjian tak tertulis’ dalam masyarakat seperti, kondangan, muyen, mengurus kematian, dan sebagainya, namun mempunyai andil menjadi pembantu (pelayan atau sukarelawan) jika ada suatu hajatan di masyarakat khususnya dengan kerabat dekatnya. Kalo tidak begitu, biasanya merantau menjadi tradisi pemuda desa. Jika ia tidak mempunyai ‘modal lahan’ dan ‘modal uang’ untuk menjadi syarat atau alat untuk ber-tetekbengek. Semacam itu juga untuk interaksi dengan sepupu, adik-adik, keponakan yang statusnya mereka masih sekolah, bahasa lumrahnya adalah ‘ngasih sangu’ buat jajan mereka. Sebab dulu orang tua mereka juga melakukan hal semacam itu pada kita ketika kita masih kanak-kanak.
Pangangguran ini untuk melakukan semacam itu ‘materi’ berupa ‘uang’ mungkin sangat sulit, jika ia juga ‘pemuda boros’. Lebih besar pasak daripada tiang. Ditambah ‘malas’ membantu kerabat, dalam hal merawat lahan atau rumah – modal tanaga dan keikhlasan – tanpa bergaji merupakan ‘tabungan’ masa tua. Juga termasuk menjadi tempat kita menambah keahlian kolektif. Kita sedang membicarakn ‘pemuda’ – jejaka desa, bukan ‘pemudi’ – perawan desa – yang biasanya hanya menunggu pinangan seorang yang berani dan membuat tertarik ia untuk bersama berkeluarga memisahkan diri dari orang tua mereka masing-masing. Skill dan ketrampilan pemuda menjadi modal utama untuk menarik ‘pemudi desa’, baik dalam segi masyarakat yang hubungannya vertikal maupun horizontal – kesolehan social dan kesolehan individu – untuk menjamin ketentramannya.
Kenapa hanya kesadaran akal bukan kesadaran real? Cuma sadar tetapi tidak teraplikasikan dalam kenyataan. Ah, kenapa begini? Maaf Tuhan, saya belum mampu menjadi apa yang Engkau sukai, masih belum mampu bersyukur sebaik-baikya syukur, masih belum mampu bersabar sebaik-baiknya sabar. Assalamu ‘alaika ya makarimal akhlak, ngapunten tansah ngisin-ngisinke panjenengan 
10 Maulud 1438/ 10 Desember 201

“Arang Menikahi Berlian”



Siapa Berlian itu, apa bersaudara dengan Mustika dan Zamrud atau Yakut dan Mutiara? Bebatuan yang tertempa beberapa peristiwa alam, menjadikannya mengkilap, membuat mata terpana ketika melihatnya, harganya luar biasa. Arang adalah sisa-sisa dari kayu yang terbakar, yang apabila terkena api lagi ia akan menjadi abu. Kita jelas mafhum, tidaklah sekufu hubungan antara Arang dan Berlian, dipastikan sangat jauh bandingannya hingga mustahil setara. Padahal bentuk mereka berdua sama, timbangannya sama, dan kebetulan keduanya ditemukan dalam grobak sampah oleh seorang Alim Ulama yang hendak membuang sampah, limbah dapur keluarganya. Sang Alim Ulama ini melihat si Arang jatuh di sebelah si Berlian, letak mereka sangat dekat, berjarak dua jari yang sedang ber-pose selayaknya orang mengatakan peace pada yang melihatnya. Di situlah mereka berdua jatuh cinta dan ditemukan oleh Sang Alim Ulama, dan membuat heran perbuatan kedua makhluk itu, belum pernah terbayangkan olehnya pada waktu itu bisa mendapat pengetahuan tentang kisah kasih Arang dan Berlian dalam hidupnya.
Dilihat dari tiga kategori, bibit-bebet- bobot-nya jelas si Arang mendapat keberutungan akan kejadian tersebut. Sedangkan si Berlian tidaklah merasa mempermasalahkan hubungan itu, karena ia wanita yang sholehah. Untuk pandangan umum, Arang, jelas lelaki yang akan membuat kehidupan Berlian tidak  seindah kedudukannya yang tercipta dalam keindahan. Jika cuaca alam ini mendampingi mereka berdua, sudah dipastikan Arang tidaklah bertahan lama melawan panas dan hujan musim kehidupan. Cantiknya, hartanya, keturunannya, dan agamanya si Berlian sungguh jauh dibanding si Arang, tetapi cinta membutakan mata mereka berdua. Sungguh, Sag Alim Ulama ini tidak tahu ‘amal’ apa yang telah diperbuat si Arang sehingga ia memperoleh cinta Berlian. Padahal beliau mempunyai Zamrud, seorang anak semata wayang yang masih melajang dan terpelajar, dan ada sedikit terbesit dalam hatinya untuk menikahkan anaknya daripada si Arang itu. Apalah daya, “nikmat adalah cobaan, musibah juga cobaan, semoga bukan laknat” mungkin masih bisa dipertimbangkan.
Setelah dibawa kerumah Sang Alim Ulama, mereka berdua bercengkrama selayaknya saling memahami antara satu sama lain dengan si empunya rumah. Pemuda tampan dan berwibawa membawakan minuman dan hidangan ke ruang tamu atas perintah ayahnya untuk tamu mereka. Kemudian ayahnya memperkenalkan tamunya pada anaknya, dan memperintahkan untuk ikut nimbrung dengan mereka, karena usia mereka tidak jauh beda. Seakrab mungkin mereka bertukar pengalaman seperti layaknya keluarga sendiri, hingga tidak sengaja si Arang menanyakan calon pendampingnya Zamrud. Ia pun menjawab dengan tidak meninggalkan gaya khas canda pemuda, “carikan dong! haha” sambil tertawa melepas penat di kepala jika ditanya masalah privasi. “oh iya, kalian sudah bekerja belum?” balik Zamrud menggoda pemuda pemudi yang sedang dimabuk cinta. Berlian tersenyum, Arang menjawab dengan gaya gentle, jelas ia sedang melakukan manuver kejantanan di zona kehormatan seorang lelaki, “belum, dan akan segera. Insyaallah.”. “haha, santai di perusahaan ku masih membutuhkan tambahan karyawan untuk laki-laki semangat”. “untuk Berlian, aku ada kenalan cewek, Kumala namanya, yang mungkin bisa membantu, besok kalo senggang bisa main ke kantornya. Bilang saja, temannya Zamrud! Pasti ia paham.”, dengan gaya santainya yang cool menghantarkan pencerahan pada kekalutan hati kami yang tersembunyi. 28 11 2016

Senin, 07 Desember 2015

JUDULNYA APA DONG (?)

Oleh:  Mr Oleh
Sebelum kita hidup di bumi sudah membawa aqad (perjanjian), dan perkawinan merupakan aqad yang kesekian kalinya dari berbagai aqad dalam hidup. Kemudian, aqad sendiri mempunyai berbagai pengertian dan fungsi. Sedangkan penulis membuat judul ‘perjanjian pranikah’ yang mana merupakan reinkarnasi, transformasi, serta tafsir dari ‘Pasal 45 ayat 2 Kompilasi Hukum Islam’ sebagai ikhtiar manusia untuk bersosial menuju ke manusianya manusia setelah menjadi manusia.
Dan manusia pertama kalinya yang melakukan dan dikenai aqad (perjanjian) serta melanggarnya adalah Nabi Adam As. dan Siti Hawa, hal tersebut jika pada kitab suci. Hingga nabi terakhir Muhammad Saw. pun masih mengingatkan, membimbing, serta menjadi suri tauladan dalam beraqad. Ulama, khususnya fuqaha juga melakukan pengembangan dalam merealisasikan kebaikan yang sampai sekarang masih saja terjadi pelanggaran-pelanggaran yang merupakan ke-ngenes-an gelar manusia yang dimuliakan (Al-Israa’ [17]: 70) dan ciptaan terbaik 4).
    Mungkinkah kita hanya manusia teoritis yang miskin amaliyyah, manusia munafik yang mempunyai ciri salah satunya adalah mengingkari janji dan tidak dapat dipercaya. Atau mungkin ada dalil khusus yang memperbolehkan kita melakukan pelanggaran-pelanggaran yang sebenarnya tidak ada dispensasi akan suatu perintah, sehingga title fasik (wanprestasi) dan dzalim menjadikan kita bahan tertawaan para musuh yang tidak tampak itu, apakah kita manusia berprestasi. Kebolehan dalam perjanjian dan praktiknya yang melegakan semua pihak yang terikat dalam suatu perjanjian buatan manusianya sendiri.
Yang jelas, dari Pasal 45 tersebut di atas, tidak bisa berdiri sendiri. Ada korelasi pasal-pasal lainnya selain dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), baik dalil nash maupun dalil dari berbagai buku dan peraturan yang berlaku di Indonesia, seperti kaidah-kaidah hukum Islam, UU No: 1, Th 1974, KUHper, dan lain-lain.


......SEWU JANJI......
sewu ukoro wes koe uncalno
sewu janji wes dilaleke
nangeng kabeh
podo rakelaksanan
lungomu neng endi
pirang tahun koe nggoleki
seprene durung iso nemoni
.............
wes tak cubo
ngelaleake jenengmu
seko atimu
saktenane koe iseh ngapusi
ora tresno slirahmu
............
umpamane koe ora mulyo
lilo koe lilo
yo mung akeh dadi penyuwunmu
jal takokno awakmu dewe
senajan meng takon piye kabare
kanggo dodo kang ora genah kui
.............
wes tak cubo
ngelaleake jenengmu
seko atimu
saktenane koe iseh ngapusi
ora tresno slirahmu
Di Mana ya, 08 12 2015

Minggu, 05 Juli 2015

KUKADO KAU DUKAKU



KUKADO KAU DUKAKU
Mr. DIAM
Namanya Ayyat El Hafidz, ia menyukai wanita itu. Sebut saja AU, mahasiswi jurusan sastra di salah satu perguruan tinggi di Indonesa. Pemuda itu suka dengan hari kelahirannya sendiri di dunia ini, tepat pada hari dimana tembok Berlin bersatu, 9 November 1989. Kalau AU sendiri lahir di 27 Ramadan 1411 – sekitar tanggal itu jika di hijriah-kan, atau 25 Ramadan, belum saya tanyakan. Sekarang ia sedang dekat dengan teman akrabnya, namanya Ahmad Ilham, lelaki yang lahir di tanggal 25 Desember 1991 – kebetulan mempunyai hobi yang sama, suka jebret-jebret alias potograper. El sendiri berjauhan dengan AU, karena beda kampus, dulunya satu SMA – dulu El mengenal namanya Amal, tetapi sekarang banyak teman kampusnya memanggil Lia.
Diam. . .Diam! Diam. Diam, Diam? Dia am am am am
diam. . .diam! Diam? Diam. Diam, dia am ama am am
dan diam, dia didiami diam. Diami? Diam! Dia diam.
di am dia diam. Diam? Diam. Dia diam? Am dia. Diam! Diam . . . diam,
sssttt . . . Diam! Dia diam? Diam? Diam? Ya, diam.
upss, diam. Diam diam diam. Hmm diam. Diam-diam dia . . .
paham diam? Paham! Diam, Diam-diam dia paham diam.
mas, diam. . .diam, mas! Diam itu emas, paham emas diam? Emas diam. Dia diam
Diam. Dia emas?
AU lihai kalau soal ngeles saat dipuji oleh El, saat malam 15 Ramadan AU coba dirayunya, “Kau mempesona malam ini, rembulan pun tak kalah dalam memamerkan pesonanya, terpesona aku. Kau lebih cantik dari dekat, beda rembulan yang cantik dari jauh”. Karena AU suka membaca buku-buku syair-syair para sufi, seperti al Rumi, Rabiah al Adawiah, penyair-penyair Barat, dan penyair Nusantara, ia pun hanya biasa saja sambil mengatakan, Leg – begitulah ia memanggil si El –, “daripada kamu merangkai kalimat rayuan basi, nih buku-buku rayuan cowok alay sepertimu, bacalah! Aku udah kelar”. Sambil nyengir memakai salah satu gambar-gambar yang sudah disediakan aplikasi facebook, twitter, BB, dll.
sayang....
kata mereka aku kafir.... aku tersesat....
karena aku mencintaimu.
karena aku ini tak tahu jalan pulang setelah berkunjung kehatimu
sayang....
setahuku, cemburu yang berpahala adalah cemburu suami pada istri
dan atau sebaliknya
bolehkah aku cemburui khayalanmu itu
sayang....
bolehkah aku menikahi akalmu
walinya guru
saksinya para malaikat
maharnya ilmu
sayang...
jangan khawatir
bolehkah penghulunya adalah Tuhan Sang Maha Bijaksana
aku ingin pengetahuanmu halal untukku
menjauhi perzinaan berkepanjangan ini
sayang...
hina aku yang bodoh ini
kalau itu dapat menenteramkan hatimu
aku lelah, sakit...
terperkosa oleh kosa kata dari ribuan makna
sayang...
saudara kita akan hadir dalam akad nikah nanti
Si Jasad
Si Nafsu
Si Ruh
Si Jiwa
sayang...
menikah bukan paksaan, namun
mencari halal
membelai mauwadah
bercinta warahmah
mencapai keharmonisan hidup
sayang...
sayang sekali.

Ilham bertuit-tuit di twitter yang hanya 240 karakter, “indahnya kedua sahabatku itu, si El dan si AU, selain saling sapa syair sanjungan semu, mereka berdua tidak meninggalkan bersimpuh dalam dhuha”.  Biasa bisa bias, dia kan paling suka khusnudzon dengan teman-temannya. Rindu sebelum merindukan, merindukan dalam kerinduan, kerinduan sejatinya rindu. Dari milyaran kerinduan yang ada di alam semesta, ia akan mengalir menuju muaranya. Jika rindu itu ibarat debu, apakah padang pasir dan tanah muaranya. Kalau rindu ibarat hembusan nafas, anginkah muara itu. Umpama setitik embun jadi ibarat rindu, mungkinkah samudera muaranya. Jika cahaya adalah muara kerinduan, mungkinkah percikan-percikan itu kita. Ia tergetar dengan suara itu, apakah kau akan bertanya muaranya? Coba kubertanya pada jawaban. Tahukah kau ilusi kerinduanmu itu, aku berbohong untuk tidak merindukan dan si bodoh merindukan kebodohan lalu menyesal karena tidak sanggup menerima kesejatian kerinduan itu sendiri.

Ruang Lamunan, 04 Juli 2015


Si Bodoh