Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2015

BERCERMIN

"Ya seperti itu, di sini (Kalibeber) ada Mbah Muntaha, di sana ada Mbah Abdul Karim (Lirboyo), Mbah Kholil (Bangkalan), Mbah Arwani (Kudus), Mbah Dimyati (Tremas), d.l.l. yang dulunya sebagai sesepuhnya. Dan pada zamanya diakui keilmuannya, sampai sekarang diteruskan oleh penerusnya. Setiap tiap latar belakang yang berbeda jelaslah ada kelebihannya dan ada kekurangannya. Masak kita mau mengatakan mereka salah, bisa-bisa kualat nantinya. Kalau dibandingkan berat 'iman' mereka dengan kita yang sekarang, mungkin iman kita nggak ada seberat debu." beliau menjelaskan padaku dengan hati-hatinya.  

"bagaimana dengan mereka yang berbeda? baca saja sudah ngelu." tanyaku. "maksudnya mereka yang mau mengislamkan orang islam, begitu?" memperjelaskan. "ya gimana ya, kalau jaman dulu (Jaman Nabi) tinggkatan orang masuk islam ada beberapa tingkatan. sudah 1437 Tahun. berarti kita tingkatan yang ke berapa?" malah balik tanya padaku yang asyik menyimak. "waktu itu banyak sekali ruksyoh (keringanan) yang diberikan oleh Rasulullah saw untuk beberapa sahabat. baik itu ibadah mahdhoh maupun ibadah sosial." tambahnya. 

"untuk penyampaian khusus dan umum jelaslah mereka para Kiai, Ulama, Ustadz, dan sebagainya mempunyai metode masing-masing." raut mukanya serius. "jadi menurut saya benar semua." saya pun terdiam. sepertinya ini benar-benar serius, dan sepertinya beliau tahu kalau saya masih mamang dan kurang mantab. "lah kamu tidur mulu kerjaannya, hehe...." candanya sambil ngekek.

Kalau yang keindonesiaan,  sudah ada Guru Bangsa dan Guru Rakyat, yang keduanya merangkul semuanya. Mengayomi dan mempertahankan kesatuan bangsa. Kalau nggak bisa dengan alasan seagama (seiman), pakai sebangsa, senusantara, semanusia, sebenua, sebumi, dan "se-" lain-lain yang intinya menghindari kerusakkan yang besar. siapa yang nggak tahu Guru Bangsa? Guru Rakyat? dan sudah banyak berdiri lembaga pendidikan. Apalagi menjelang pemilihan-pemilihan wakil rakyat, jelas hal-hal perbedaan akan memperuncing keadaan. Kita mencari persamaannya, kebaikan-kebaikannya dari setiap yang ada. Biar tahu fungsinya masing-masing, untuk kebaikan bersama.


Malam Minggu 

Rengeng Rengen


Senin, 05 Januari 2015

BELIAU SANGAT MENGENAL TUHAN dan MALAIKAT


BELIAU SANGAT MENGENAL TUHAN dan MALAIKAT
Mr L

Bismillahirrahmânirrahîm al-hamdulillahi rabbil’âlamîn (1:1-2). Semua Malaikat bershalawat kepada nabi, kita pun dianjurkan mencontohnya (33:56) dan Semua Malaikat beserta alam semesta bertasbih padaNya. – qalû subhânakalâ ‘ilmalanâ il-lâ mâ ‘al-lamtanâ... (2:32). Sampai-sampai para Jin takut dan berkata jujur jika beliau bertanya. Allahumma shali’alâ sayyidinâ muhammad. Dianugrahi ilmu alam semesta, namun sederhana dalam membimbing. Dianugrahi kekayaan dunia akherat, namun memilih berkumpul dengan para fakir miskin tanpa menghinakan para oang-orang kaya.
Nur Fawais Saudah, sebut saja dia begitu – salah satu sahabat penulis – atau panggilah dengan  panggilan akrab yang Anda suka. Saya tidak mafhum artinya apa nama itu, tetapi saya suka dengan nama tersebut. Ia di tempat pendidikan al Quran, sering berpikir sejenak jika mengingat ungkapan Sayyidah Aisyah yang dicintai oleh Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. yang masyhur, “akhlak beliau adalah al Quran.” Sekarang tahun 2015, abad 20 M. atau tahun 1436, abad 14 H. Kemaren baru saja diperingati, 12 Rabi’ul Awwal 1436 H atau 03 Januari 2015 M. Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. bermesra dengan ungkapan, “mereka kekasihku, yang jauh dari zaman hidupku di dunia namun mengenal dan mencintaiku.” Ia ingin menghadap kepada Beliau dengan bertanya, “masihkah berlaku kalimat menggembirakan itu padaku yang berdekat dengan ‘akhlakmu’ namun bodoh dalam perilaku?”. Allahumma shali’alâ sayyidinâ muhammad.
Malaikat mencatat tanpa mengurangi berita, membagi rezeki melebihi menteri perekonomian, menggusur tanpa pandang bulu, menghukum tanpa belas kasih, memberitakan apa yang sebenarnya kabar, menjaga kemewahan dan keindahan tanpa korupsi, bertanya tanpa menerima kebohongan, bekerja tanpa mengharap imbalan. Semua penuh dengan ketaatan pada Sang Pencipta. Kembali kita menginjak bumi nusantara, kata beliau KH. Said Aqil Siroj, ketua PBNU setelah al maghfurlah KH Abdurraman Wahid ketika memperingati Maulud Nabi di Kota Batang, hadir juga Habib Luthfi bin Hasyim Pekalongan, “bumi nusantara lebih mencukupi kemakmuran 270 juta penduduk Indonesia, namun kurang untuk mencukupi satu dua orang serakah.” Begitu juga kata budayawan Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau Cak nun) ketika menjelaskan “Syafaat Rasul” dalam sebuah Esai di buku “Kyai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” (hlm 149-153), “bumi sepenggal sorga, tapi kita keceh di hujan (seperti anak-anak), boros, foya-foya dan memonopoli untuk menyengsarakan ratusan juta rakyat. Kita merusak kemanusiaan dalam hewani, rakus, iblisi, lahwun (senda gurau), la’ibun (main-main), dan dhulm (kegelapan).” Kemudian, “umpama memegang 200 triliyun untuk sampai ke rakyat, ada yang bilang, JANGAN....”
Asssalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarrakatuh, penulis juga pernah membaca biografi al maghfurlah KH Muntaha al Hafidz, karya Samsur Munir Amin, menceritakan bahwa Beliau pernah sekali bertemu dengan Rasullullah shalullahu ‘alaihi wassalam. ketika ziarah di makamnya. Hanya sekali, di abad sekarang yang jelas tidak masuk akal, namun hal itu tidaklah mustahil karena, sebelumnya para sahabat nabi juga ada yang pernah mengalaminya meskipun hanya dalam mimpi. Bagaimana para kiai, ulama, alim zaman sekarang, 2015, yang selalu masih bergembira menggemakan marhaban marhaban ya nurrul ‘aini... marhaban marhaban jaddal husaini...”monggo kajeng nabi, sugeng rawuh teng manah kito, teng akal kito, teng jasad kito. Ngapunten manah, akal, lan jasad kito mboten sahe. Nggeh kadhos niki.
Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. takdzim dengan Sang Pencipta, ramah dengan Malaikat, sayang dengan seiman, kasih dengan sesama manusia, tenggang rasa kepada perbedaan. Meskipun dalam catatan sejarah ada yang tertulis masalah ‘peperangan dengan manusia’, Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. juga mengimbanginya dengan penyataan ‘peperangan dengan diri sendiri’. Penyataan, perbuatan, tauladan Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan saudara, dengan sahabat, dengan tetangga, dengan masyarakat, dengan bangsa, dengan antar bangsa, menjadi ilmu yang rahmatalil ‘alamin. Bahasa gaulnya, mulyo nanging mboten ngasorake liyan – mulia namun tidak menghinakan yang lain. Kenyataannya, ada yang merasa terhina akan keluhuran budi pekerti Beliau, begitu? Baiklah, itu hak Anda dalam mengoreksi. Maaf jika ada salah dan kurang sopan dalam penulisan.


Di Kamar, 04 Januari 2015.
Penulis

Selasa, 05 Agustus 2014

NGOBROL DI TULISAN, "RAPAT"

"Selamat malam semuanya, semoga sehat semua." "Bagaimana semua birokrasi, aman?" "Aman." "Silakan Menteri Perhubungan dan Menteri Birokrasi membacakan hasil keputusannya." "Baik, mohon maaf sebelumnya." 
"Yang Terhormat, Presiden Hati Sanubari dan Wakil Presiden Akal Sehat."
"Yang Terhormat, semua jajaran Birokrasi Jasadiyah yang hadir dalam kesempatan rapat hari ini, tanggal 05 Agustus 2014, untuk membahas kinerja Lima Tahun kedepan, 'RAKERMAS' - Rapat Kerja Manusia." 

Dari Habib Luthfi:
( http://chirpstory.com/li/222572 )
















Kemudian dari Tulisan Emha Ainun Nadjib:

( http://www.caknun.com/2014/demokrasi-dan-egomania/ )

Untuk penulisan dari penulis menyusul, entar kalo asal nulis kesimpulan dimarahi sama ahlinya, hehe. SELAMAT MEMBACA.

Senin, 06 Januari 2014

RINDU KITA

ya Tuhan, 
kami berlindung padaMu dari sifat sombong, dengki, dan sifat-sifat lainnya yang dapat menjauhkan kami denganMu. 
Bimbinglah kami agar dapat memesrai semua makhluk ciptaanMu. 
Ampuni kami.
Engkaulah Tuhan semesta alam.


Wonosobo ,06 Januari 2014

Sabtu, 21 September 2013

Hmm Apa Ya?



Hmm Apa Ya?
Oleh: Legiran

Setelah membaca surat al-Hijr dalam al-Qur’an hati merasa tentram, kenapa tidak (?), dalam 99 ayat, ada satu ayat yang menegaskan bahwa “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (15:09). Wow… bukan basa-basi lagi rupanya Tuhan menjamin kitab yang satu ini, pertanyaannya, kenapa kita masih saja membacanya (?) jawabannya simple, jika bukan kita yang membaca, emang agama lain mau membacanya – sambil ketawa-ketiwi –, umpama mereka membaca, ya gak masalah – toh banyak yang mengakui ‘kebagusan’ bahasa di dalamnya, bukan. 
Sebagai surat cinta dari Tuhan – untuk muslim, jika yang non muslim punya kitab sendiri  – yang di situ diterangkan menjadi surat cintaNya untuk semua makhluk. Kenapa kalimat tadi bertentangan, “untuk muslim” kemudian ditutup “semua makhluk” dan di tengahnya ada “non muslim”. Santai saja, kita baca kitab mereka juga gak dimarahi oleh mereka, “gitu aja repot (!)”, “kata siapa (?)” hehe… indahnya, kebersamaan ini. Bagaimana mereka tidak baca – memakai mereka, sebab penulis juga tidak serajin yang pembaca sangka “rajin iqro’” –, sedangkan bacaan yang lain masih antri di tempatnya masing-masing – maklum suka baca-baca bacaan “komik”.
Aktualisasi bacaan ‘tekstual’ dan ‘kontekstual’ dalam surat cinta (al-Qur’an) kata beliau, KH. Mustofa Bisri – kyai plus budayawan, setahu penulis –, “semacam tamparan bagi para pembacanya” dan jika dikaitkan dengan kontekstualnya, melihat problematika yang ada, kemudian dikaitkan dengannya, hmm. Aduh, lama-lama menjadi sok suci nih penulis, bagaimana sok suci, emang kenyataannya  begitu – dalam kesadaran nalar dewasa sekarang ini. Kembali di surat al-Hijr, yang setelah googling, teman saya bilang bahwa itu nama sebuah gunung di Negeri Samud – hayo daerah mana? Tebak tempat. Dibaca sendiri-sendiri aja ya, bagus kok, entar ada ayat yang menjelaskan bagaimana Tuhan dengan Maha SombongNya melindungi rahasia gaib dan pemberian rezeki untuk semua makhluk.
Jika diperlebar lagi tentang mufasir – ahli tafsir dari zaman dulu sampai sekarang – masih saja ada penemuan-penemuan yang ada dan keluar jika benar-benar ditelaah dan berani mempublikasikan. Mereka para mufasir – sebagaimana yang sedikit penulis pelajari – harus ada kesepakatan bersama untuk menjaga agar tidak menjauh dari tujuan surat cinta diturunkan, bukan. Baik ‘pemetaan ayat’, tetang sosial, sains, hukum, dll yang kesemuanya menuju yang namanya “akhlakul karimah” Nabi Muhammad saw. jika di sini tempat kita belajar, ada al-magfurlah KH. Muntaha al-Hafidz. Soalnya, beliau saja masih menganggap belum atau masih jauh dari apa yang disandarkan oleh muslim zaman nabi saw. dan sahabat, yakni gelar “manusia al-Qur’an”, sebagaimana yang dituturkan oleh sayyidinah Aisyah ra.
Udah dulu ya, hmm, entar dimarahi ‘syair tanpa waton’-nya manusia aneh plus presiden aneh, Gus Dur, seperti bait, “koor pinter dongeng, nulis lan maca” (hanya pintar bercerita, menulis, dan membaca). Semoga bisa jadi koreksi bersama, okey… sebagai penutup, qola huwa, “mocoho walau sak ayat” (membacalah walaupun hanya satu ayat). Dan selentingan KH. Umar Zaed, “qulhu ae lek” (al-Ikhlas saja, man). Hmm… maaf jika salah… semoga kita – khususnya yang nyumbang wacana tulisan ini – selalu dalam rahmat dan ampunNya.

Wonosobo, 21 September 2013
Salam


pengetik

Jumat, 13 September 2013

INDONESIA DALAM KETIDAKPASTIAN, “PASTI TIDAK?”



INDONESIA DALAM KETIDAKPASTIAN, “PASTI TIDAK?”
Oleh: Legiran

Hukum dan pemilihan Presiden Republik Indonesia 2014 mendatang adalah isu miring yang di-nash-kan dalam memori setiap manusia di Indonesia, baik yang ‘aposteriori negaraisme’ ataupun yang ‘apriori negaraisme’ – lima tahun sekali itu terjadi, bahasa ‘necis’-nya, pesta demokrasi. Dalam twitter dan blogger penulis, sudah pernah menulis bahwa saya mendukung KH. A. Mustofa Bisri jadi Presiden RI – hal itu penulis sampaikan karena pernah mimpi demikian, sebab ada akun twitter Trio Macan yang populer menganalisis calon presiden, dan itu pakai bukti otentik – namun, tanggapan beliau malah, “mungkin Anda sedang pusing”. Penulis pun ngeyel sambil balas, “saya kira yang pusing bukan hanya saya.” Dan fenomenal tersebut menjadi perbincangan yang panjang, sampai-sampai PBNU mengadakan Rapat Pleno di kota penulis menetap, Wonosobo, untuk wilayah Jawa Tengah.
“multi-kemungkinan”, ‘kata ngawur’ yang penulis sampaikan kepada akun Sudjiwotejo – Ki Dalang yang sering nongol dengan massanya Presiden Jancuker – yang ternyata mendapat tanggapan ‘bocah caper’ alias anak yang cari perhatian. Kejadian itu berlangsung sebelum puasa kemaren, ya sekitar bulan Juni – kalo nggak salah – yang lalu. Alasan penulis simple, “mbok kalo cari presiden ya yang nggak kedun-yan (gila dunia)”, melihat hidup beliau sezaman dengan Presiden RI keempat yang ber-title  ‘KH’ (Kyai Haji). Masalahnya, mau milih Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) – budayawan plus penulis – , malah ‘urakan’ orangnya, jelas nir-minder penulis. Prediksi penulis, kalo zamannya KH. Abdurraman Wahid (Gus Dur) yang dibubarkan adalah Departemen Sosial, takutnya, Cak Nun (sapaan akrab Emha Ainun Nadjib) malah membubarkan Presiden Republik Indonesia – padahal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menganut Demokrasi Presidensial.
Wah, penulis mulai ngawur nih. Khasnya, calon presiden itu harus punya kendaraan partai untuk mengusung mereka, kalo nggak punya kendaraan mbok diajukan secara voting, temanya, Presiden Ad-hock – seperti teater Cak Nun, Nabi Ad-Hock. Nah, inilah yang namanya membicarakan “mantan” itu menyakitkan, sebab – alasan populer di remaja – slogan “mantan buang pada tempatnya” – bergambar tempat sampah, ironis sekali. Ya udah, penulis tinggal cemes aja pakai istilah, “JASMERAH”, Jangan Lupakan Sejarah – coba bayangkan jika Cak Nun dan Gus Mus jadi Presiden dan Wakil Presiden! Penulis jamin, zaman Reformasi Negaraisme “pasti” sedikit reformis lagi dibandingkan reformasi sebelumnya – itu jika kita berdoa semua, dan membantu. Caranya? Jangan tanya penulis, dong, ‘kan belum jadi sarjana, jadi, belum ada “nilai kepastian” yang bertentangan dengan “ketidakpastian”. Kuliahnya jurusan Hukum Islam, Ahwalus Sahsyiah, bagian “perkawinan” namun, masih jomblo.
  Apologi awam anak bodoh seperti penulis ini, mereka berdua itu sudah bosan hidup “kangen pada Sang Pencipta”, kapan lagi kita yang muda-muda punya ‘mimpi indah’ menikmati negara damai – buat referensi dan uswah kami yang mungkin duluan ‘banyak pengkhayal’ alias ‘mayat hidup’ atau zombei (orang bodoh itu ibarat mayat hidup – kata pepatah kuno). Sedangkan masalah “hukum”, ‘kan sudah ada Indonesia Lawyer Club (ILC), ditambah Perguruan Tinggi Hukum dimana-mana sudah banyak meluluskan sarjana hukum, bukan. Dan lagi, di dunia ini tidak hanya ada satu negara, masak kerja keras Gus Dur tidak diteruskan – siapa yang tidak tahu Presiden Pelancong Manca Negara yang hanya sebentar jadi Presiden tapi berani mengata-ngatain atau menyetempel D-PR M-PR seperti Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka berdua – menurut penulis – sedang malu-malu kucing, bahasa orang tua, tawadu’ (rendah hati) – dan jika ditanya siapa yang pantas jadi Presiden, mereka serentak jawab, “yang muda”.

Wonosobo, 13 September 2013

Rabu, 21 Agustus 2013

RENUNGAN



RENUNGAN

OLEH : LEGIRAN


[عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ]رواه البخاري
Dari Anas t dari Nabi e bersabda: “Tidak sempurna iman seorang kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari)


Dalam nafasku ada namaMu, selalu merindu. Meskipun aku tidak melihatMu, Engkau bagai dihadapanku yang selalu mengawasiku. Alunan suaraMu menggema menuntun langkahku, menegur dalam salahku. Engkau segalanya bagiku. Maaf, meskipun Engkau sangat merindukanku tetapi aku mengacuhkan rinduMu, sibuk dengan urusanku. Mencintai meskipun akan kehilangan, memberi akan menanti, dan hidup akan mati, nasehatMu lewat para kekasihMu. Lembut suaranya menina bobokan aku akan dunia, mengingatMu rindu akan temu. Yusuf-Mu yang melepas syahwat wanita demiMu, Ibrahim-Mu yang menemukanMu lewat petunjuk-Mu, Sulaiman-Mu menundukan makhluk-Mu lalu memerintah mereka untuk selalu tunduk pada-Mu, Musa-Mu yang melawan fir’aun membelah laut untuk menunjukan kekuatan-Mu, Muhammad-Mu menunjukan kelembutan-Mu menjadi rahmatalil’alamin. Aku merindukan para kekasih-Mu yang menyebarkan Asma Agung-Mu.   

عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال : لم يكن النبي صلى الله عليه وسلم فَاحِشاً وَلاَ مُتَفَحِّشاً وَكَانَ يَقُوْلُ : إِنَّ مِنْ خِيَارُكُمْ أَحْسَنُكُمْ أًخْلاَقاً رواه البخاري.

Dari Abdullah bin Amru t berkata: Nabi e tidak pernah berkata maupun berbuat kotor. Beliau bersabda: “Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR Bukhari)

Wonosobo, 22 Agustus 2013

Kamis, 31 Januari 2013

SERIUS BAHAS HAL BASIC OLEH NOE LETTO

Seriusan ah, bahas hal basic ae. Kamu tau punya tubuh, tau sehat/tidaknya ? Kamu tau punya akal. Tau sehat/tidaknya? Bgmn dgn jiwa ?

jasad itu materi. sehat tidaknya si jasad tergantung dari asupannya.Makanan, air, udara.Komposisi makanan, air, udara. Jumlahnya dst
kalo jasad kita analogikan hardware yg butuh listrik, akal dianalogikan software. Dia algoritme, pemahaman yg juga bth balance

GALAU yg katanya masalah nasional ini kalau diurut hanya karena kurang/tidak balancenya 4 komponen asupan dasar untuk akal.

1.kepastian. Siapkan satu kotak di otak untuk komponen kepastian. Isinya : siang-malam, gaji bulanan, gravitasi, cinta org tua dsb
2. Ketidakpastian. Hidup dengan kepastian semua pasti sgt boring.Butuh ketidakpastian untuk excitement.Untuk surprise.Siapkan tempat.
3. Keunikan. Naluriah manusia ingin unik,pembeda dgn yg lain. Ada yg pake tatto, ada yg pake jenggot, ada yg pgn keliatan pinter dst
4. Hubungan. Biasanya manifestasinya:cinta pasangan, persahabatan, group sepeda :p, gank motor dan sebagainya.

Coba diurut kalau sedang galau. 99% berakar dari 4 komponen tersebut. Ada yg kebanyakan, ada yg kurang, ada yg ga balance.
puncak pencapaian dari balance yg tepat dari 4 komponen ini adalah stabilnya kondisi psikis. Anda nyaman menjadi anda sendiri,..
akan lebih jelas melihat problem. Akan lebih jernih memandang masalah. Lebih bisa berkaca, tepat melihat proporsi.

kamu tak lagi berdiri di kapal yang bergoyang. Kau sudah menapak di daratan yang stabil.
tapi ingat. Itu membawa kestabilan, BUKAN kebahagiaan. Sering kita salah sangka mencarinya di 4 komponen ini sehingga ga ketemu2.
sekaya apa, seplayboy apa, seumik apa, sehebat apa, tidak mengarah ke kebahagiaan jika berhenti disitu. Banyak buktinya.
karena kebahagiaan adalah jiwa yang sehat. Dia tak mensyaratkan asupan jasad ataupun akal. Dia membutuhkan asupan jiwa.

ini bukan satu2nya rumus bahagia, tapi apa salahnya dicoba. Asupi jiwamu dengan makanannya. 2 dulu yg coba saya usulkan.

1. Tumbuh. Dengan apapun yang kamu lakukan jangan berhenti untuk tumbuh.lebih wise,lebih tegar,lebih kuat, anything, it has to grow !
2.kontribusi. Beri kontribusi sebisanya. Apapun bentuknya. Tentukan sendiri batasnya. But do contribute something.

4 akal 2 jiwa. Roadmapnya cukup lumayan untuk bisa diexplore lebih jauh
cinta yang membawa bahagia : adalah cinta yang saling menumbuhkan dengan saling mengkontribusi satu dengan yang lain.
Belajar yang membahagiakan: Tumbuhkan pengetahuanmu tentang kepastian/ketidakpastian dengan cita-cita memberi kontribusi untuk sesama
program akselerasi bahagia: tumbuhkan kemampuanmu mengkontribusi, dan kontribusikan semua pertumbuhanmu.

jadi pada hakikatnya, serve other adalah serve dirimu sendiri.Walau pemahaman itu harus melalui pertumbuhan dan kontribusi yg genuine
semua teori ndakik2 tentang cinta dapat dipahami sederhana dengan pemahaman interaksi 6 komponen itu.
orang yang sibuk mengaktualisasi diripun akan terlihat tempatnya dikotak mana. Tak ada yg salah. Hanya penonton jd lebih faham.

galau ? Coba perjelas kamar2 4 komponen dalam hidupmu. Telisik mana yg ga beres, dan sembuhkan dirimu sendiri.

by : noe Letto @noegeese

Kamis, 02 Februari 2012

GODAAN CALON PENGHAFAL AL-QUR'AN


Setiap jalan menuju kebaikan mesti dipenuhi “duri” yang menghalangi “pejalan kaki” untuk sampai pada tujuan. Allah swt secara eksplisit menyatakan bahwa siapa saja yang ingin meraih derajat keberuntungan (ashabul maimanah), dia dipersyaratkan untuk mampu melewati “al-‘aqabah (jalan mendaki)”. Demikian juga halnya dengan kegiatan menghafal al-Quran, tidak alfa dari godaan tersebut.

Menghafal al-Quran merupakan aktifitas yang sungguh sangat mulia, baik di hadapan Allah maupun dalam pandangan manusia. Sedemikian banyak waktu yang tercurah, konsentrasi pikiran yang terpusat, bahkan tenaga dan biaya juga ikut terkuras. Semua diniatkan untuk gapai ridlo Allah, tanpa ada hasrat sedikitpun menjadikannya sebagai sumber penghasilan ataupun sanjungan. Di balik kilau cahaya kemuliaan tersebut, tersembur pula serabut-serabut duri “godaan” yang senantiasa menghadang sewaktu-waktu. Jadi, siapapun yang pernah menjalani proses mengahafal al-Quran bisa dipastikan pernah merasakan pahitnya cobaan dan manisnya godaan.

Tentu, jenis cobaan dan godaan tiap-tiap orang berbeda. Adapun kemampuan menghalau godaan itu sangat tergantung pada tingkat ketulusan niat dan kedalaman iman yang terpatri di hati. Cobaan dan godaan calon penghafal al-Quran muncul dari dua arah; eksternal dan internal. Di samping menjadi faktor pendukung kegiatan menghafal, Orangtua atau keluarga seringkali juga menjadi faktor penghambat. Si santri sebelum berangkat untuk menghafal al-Quran acapkali orangtua atau keluarga mengatakan: “nak, mumpung umurmu masih muda teruskan sekolahmu saja hingga ke perguruan tinggi, agar mudah cari pekerjaan. Nak, waktu tiga atau empat tahun untuk menghafal al-Quran itu cukup lama dan memakan biaya banyak, namun tidak ada ijazah yang bisa digunakan melamar pekerjaan, bagaimana nasib masa depanmu kelak? Nak, menghafal al-Quran itu usaha yang berat dan lebih berat lagi menjaganya, kenapa kamu kok cari sesuatu yang susah, untuk apa?”. Mendengar ucapan demikian, si santri biasanya mentalnya langsung drop (anjlok) lalu mulai bimbang dan akhirnya tidak jadi menghafal. Inilah contoh cobaan eksternal yang bisa mengubur “cita-cita suci” itu.

Tak kalah hebatnya, cobaan internal juga mampu membuat si santri terperosok ke jurang kegagalan. Godaan “lawan jenis” menempati urutan pertama dari cobaan-cobaan internal yang ada. Semenjak saya membuka layanan konsultasi tahfidz online di blog cahaya qurani dua tahun lalu, 80% keluhan kesulitan menghafal dari para penanya adalah godaan asmara, terutama setelah hafalan mereka sampai pada sepertiga terakhir (juz 20 keatas).

Memang agak misterius, apakah godaan itu satu paket (built-in) dengan al-Quran yang akan dihafal, ataukah itu gejala pubertas biasa yang dialami hampir semua remaja usia dua puluhan tahun? Ibarat virus, godaan asmara ini mampu menggerogoti konsentrasi dan keseriusan hafalan. Betul sekali sebuah ungkapan al-Quran, bahwa Allah tidak akan memberikan dua hati sekaligus dalam tubuh satu orang (min qalbaini fi jaufih). Menghafal al-Quran tergolong “mega proyek” lantaran ia butuh energi dan perhatian yang luar biasa. Ada 6000-an ayat (77436 kata) yang akan ditransfer ke memori otak, di sini diperlukan ketangguhan fisik dan psikis, serta konsistensi dalam kurun waktu 1-3 tahun. 

Umumnya, otak kita mampu mentransfer satu halaman al-Quran dalam waktu satu jam dengan kondisi kesehatan fit dan full konsentrasi. Namun, jika konsentrasi menurun 20-30% saja, maka waktu yang dibutuhkannya menjadi dua kali lipat alias dua jam. Lalu bagaimana dengan konsentrasi yang hanya tersisa 30%? Mungkin butuh waktu satu minggu untuk menghafal satu halaman saja.

Biasanya santri yang terinfeksi virus asmara saat menghafal, adalah santri yang “mudzabdzab (cita-citanya mengambang)” dan santri yang “ikut-ikutan” tanpa ada landasan pemikiran yang kokoh. Ibarat sapu lidi, yang ikatannya kuat akan susah dimasuki lidi lagi. Pikiran yang kurang fokus, akan menyisakan ruang-ruang kosong dalam otak dan itu rentan kemasukan “virus asmara”, lalu ia mengendap dan mengakar kuat dalam sel-sel syaraf. Tidak salah memang jika alm. Meggy Z mendendangkan: “rasa cinta pasti ada pada makhluk yang bernyawa”. Layaknya seorang tamu, kadang cinta itu hanya mampir sesaat saja dalam bayangan. Tapi bila pemiliknya betah berlama-lama dengan tamu itu, semakin susah pulang tamu itu, bahkan ikut tinggal bersama.

Hidup itu sebuah pilihan, masing-masing ada konsekwensinya. Keputusan kita untuk menghafal al-Quran mengandung beberapa konsekwensi, diantaranya: kurang tidur, waktu santai begitu sempit, sering pusing, studi lanjut mungkin terhenti. Tetapi, di balik itu semua, yakinlah bahwa otak kita akan semakin cerdas, sikap kita semakin bijak, masa depan insyaallah dicukupi oleh Allah. Sebaliknya, hidup glamour dan menuruti hawa nafsu di waktu muda mengandung konsekwensi hidup yang sempit, mudah stress (ma’isyatan dlankan). Marilah wahai saudaraku, kembali ke starting point (khittah) dimana niat telah bulat dan rencana sudah matang untuk menghafal. Rel harapan yang mulai agak belok segera diluruskan agar kereta sukses melaju cepat menuju cita-cita suci nan abadi.

Dalam beberapa kasus, santri penghafal al-Quran itu mempunyai daya pikat dan memiliki pusaran magnet karisma yang kuat, sehingga “permintaan” untuk menjadi pendamping hidup sering melimpah. Kemana saja orang berebut untuk mendapatkan sang idola ini. Sisi lain, proses menghafalnya belum tuntas dan upaya pendalaman ulumul quran-nya juga belum tersentuh. Tawaran menggiurkan ini biasanya datang dari keluarga pesantren, pemilik perusahaan, saudagar kaya dll. Akibatnya, beberapa tunas harapan ini rela dipetik kendati hafalan dan ilmunya masih prematur. Walhasil, harapan untuk menjadi penghafal al-Quran terkubur pelan-pelan lalu hanyut menghilang bersama waktu. Seandainya godaan tersebut dituruti, kita sesungguhnya pada saat itu telah terjebak nafsu dengan berdalih mengikuti irama takdir, padahal masih memungkinkan untuk bersabar sejenak, berupaya maksimal, sebab hal ini menjadi poin tertinggi dalam menapaki tangga kesuksesan hakiki di sisi Allah. Bukankah besarnya upah itu ditentukan oleh besarnya keletihan (al-ajru biqadril kaddi)?
  
Cobaan atau godaan lain yang perlu diwaspadai adalah rasa kurang konfiden (percaya diri). Seakan orang lain begitu cepat dalam menyelesaikan hafalannya atau seakan begitu susah kita melancarkan hafalan dan tidak ada progres sama sekali bahkan hafalannya sering tambal-sulam, timbul-tenggelam, jatuh-bangun. Sekiranya dianggap bahwa hanya kita sendiri yang seperti itu, yakinlah semua orang yang menghafal al-Quran pasti pernah memiliki perasaan “minder” semacam itu. Solusi dari persoalan ini hanya satu, yakni perbanyak muroja’ah apapun yang terjadi, jangan pedulikan “momok” itu, kelak waktulah yang akan menjawab bahwa inilah buah dari kerja kerasmu dulu, nikmati kesuksesan di hari ini, hafalan lancar, hidup makmur, pikiran tenang, keluarga bahagia. Siapapun tahu bahwa hafalan itu berkembang secara abstrak, kelancarannya tidak bisa prediksi dan tidak matematis. Ibarat jalan berpasir, dia akan menjadi rata dan rapi, manakala sering diinjak dan dilewati. Dan ini butuh waktu lama, tidak mungkin diraih secara instan, bim salabim. Semoga tekad yang kuat dan motivasi yang membara mampu menghalau semua cobaan dan godaan di atas, amin. — di Ruang kedamaian.