Tampilkan postingan dengan label rangkuman wonosobo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rangkuman wonosobo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

“Tak Ada Kangen Bagimu Dariku Untuk Hal Itu, ‘itu prinsip’.”



“Tak Ada Kangen Bagimu Dariku Untuk Hal Itu, ‘itu prinsip’.”
Oleh: L.G. Ran, S.Sy

“Ayolah, lakukan dengan cepat, jika itu yang kau inginkan.” Gerutunya. Semua terjadi begitu singkat yang berkontinunitas dari Sembilan bulan terakhir ini meskipun tidak adanya relevansi yang intensif. Aku bercumbu dengan buku-buku, akal dan status yang telah dewasa, menuju yang namanya Sarjana Strata Satu Fakultas Hukum Islam (S. Sy ‘Sarjana Syariah’) di Universitas SAINS al-Qur’an (UNSIQ) Wonosobo Jawa Tengah (sebelumnya dikenal IIQ). Berawal sebuah Pondok Pesantren Tafidzul Qur’an (PPTQ) al-Asy’ariah pusat ‘kalibeber’ (nama sebuah desa besar dengan Kecamatan Mojotengah yang dulunya didirikan oleh Kyai Besar al-magfurlah Mbah KH. Asy’ari, penerusnya KH. Muntaha al-Hafidz ‘Mbah Mun’ panggilan akrab beliau untuk penduduk lokal, pencetus al-Qur’an Akbar), kemudian ke cabangnya – tempat yang lebih intens dalam pengajaran hafalan Qur’an dengan KH. As’ad Alh (santri mbah Mun yang dipasrahi  untuk mengampu para penghafal al-Qur’an) – di Ngebrak yang sekarang lebih dikenal dengan nama PPTQ Baitul Abidin Darussalam (BAD) Sarimulya.
Sekarang, saya malah berada di sebuah kos yang terletak di tengah-tengah antara keduanya. Di Desa Jambean, yangmana disini berdiri lembaga penghafal al-Qur’an juga, namun metodenya adalah Qiraati, Tempat Pendiddikan al- Qur’an (TPQ) Sa’adatul Islam Jambean, cabang Wonosobo. Dalam hal ini, sangat mengherankan, saya malah tertarik dengan kegiatan ‘Islam Kebudayaan’ yang di populerkan oleh Emha Ainun Nasjib ‘Cak Nun’ dari Jombang, berpusat di Kota Bantul Jogja, dengan sebutan ‘maiyahan’. Berawal dari salah satu senior di pondok dulu, yang iseng-iseng mengoleksi dialog-dialog para ‘maiyah’ dalam bentuk mp3 dan video yang beredar di youtube. Kebetulan waktu itu di kamar kami lagi banyak beredar video ‘dialog antar agama’, setelah mendengarkan diskusi dari mp3 kamar tetangga – senior itu berada di kamar yang bersebelahan dengan kamar saya yang berisikan sembilan santri pembantu ‘pekerja’ di pondok – yang sebenarnya saya sangat tidak suka, dan malah menganggap itu dialog para ‘Islam Liberal’ saja.
 Kebetulan di Jogja sendiri, saya banyak punya teman yang dulu satu SMA – SMA Takhassus al-Qur’an ‘SMA TAQ’ – yang lebih dulu mengikuti acara tersebut, Ahmad Majid, yang juga koplak anaknya. Jiwa pemberontaknya sudah ada sejak di pondok dulu, ‘pemberontak’ disini adalah individual yang mempunyai kesadaran akan lingkungan dan berani melawan untuk kebaikan bersama, sebuah wujud keperdulian pada problems system of social di tempat tinggalnya. Dalam pengamatan saya sendiri, hubungan kausalitasnya adalah adanya ke-aku-an ‘pengakuan’ yang tidak seimbang, baik dari pengurus pondok dengan santri biasa yang sudah  lama maupun pengurus pondok dengan yang santri yang baru.
Kembali pada tema awal, “Tak Ada Kangen Bagimu Dariku Untuk Hal Itu.”, ‘itu prinsip’. “Maksudnya?”. Berbagai peristiwa yang sudah berlangsung, baik adanya masalah – baik-buruk – ataupun diluar kewenangan kita sebagai subyek ‘pelaku hidup’ – interaksi diri sendiri ‘individu’ dan subyek lain di luar kita ‘masyarakat’ – yang akhirnya menjadi ‘term’, ‘idiom’, ‘prinsip’, dan ‘asumsi’ dalam hidup kita untuk membuat sejarah yang kemudian menjadi ‘takdir’ dari Tuhan untuk kita dapat kita pahami. Bukan berarti sama sekali tidak ada ‘kangen’ dalam diri masing-masing individu – baik ‘mu-‘ku-ia-‘nya-kita-mereka – untuk berperan langsung sebagai wujud meniadakan itu semua ‘nir-memori’. Jika ‘hal’-nya adalah kebaikan, mungkin baik saja untuk tidak dikangenin – menetralisis sifat mengharap kebaikan dari ‘hal’ itu – sebaliknya, jika ‘hal’ keburukan wajib diarsipkan – sebagai bahan kajian dan pertobatan.
Melakukan dengan cepat, jelaslah, semua ingin melakukannya dan tidak suka akan keter-tele-tele-an yang bertele-tele. Banyak sistem dalam suatu lembaga yang membatasi ‘obyek’ dengan waktu ‘tertentu’, berjangka waktu, bentuk pengaktualisasi pada ke-profesionalan ‘subyek’. Proses bergeneralisasi yang meng-global sangat ketara meskipun ketransparannya masih dipertanyakan, tidak semua elemen yang berperan di dalamnya dapat informasi yang akurat. Masih adanya ‘aku’ yang bertendensi ‘nya-‘ku, dalam konteks ke-kanak-kanak-an, itu skandal yang ‘porno’ apabila dipublikasikan. Proses kedewa-saannya dilakukan dengan ‘santet’ yang terselubung – tidak ada pengetahuan kecuali yang di-tahu-kan – untuk menjaga image ketokohan suatu lembaga. 
Kalibeber, 06 April 2013

Substansi ‘nggerre pa?’ Di Kalibeber Wonosobo



Substansi ‘nggerre pa?’ Di Kalibeber Wonosobo

            Setelah tinggal di PPTQ al-Asy’ariyyah, Desa Kalibeber, selama hampir tujuh tahun terakhir ini, saya masih penasaran dengan gaya tutur masyarakat umum di semua liniea – untuk menyela ungkapan-ungkapan baru atau ungkapan yang kurang dipercaya kekridibelannya – yang menurut saya itu tutur kritisme nalar – jika melihat acuan sifat dasar Bangsa Isra’il kaum Nabi Musa. Ternyata gaya tutur itu juga merambah ke desa tetangga di daerah ini, yangmana keilmuan qur’an dan pondok pesantren salaf[1] – salaf bukan faham ‘salafi’ yang berkembang pada abad ke-20-an – masih sangat kental akan ke-NU-an.
            Melihat fenomema kultur budaya lokal, seperti karing “berjemur matahari pagi”, angom[2] “mandi air hangat, ngodo’[3] “perjalanan jauh tanpa kendaraan”, dan nggerre pa “masak sih” itu sendiri – cuaca dingin, masih dekat daerah pegunungan dieng dan sindoro sumbing. Untuk kalibeber sendiri adalah produsen opak “krupuk berbahan dasar tepung kanji singkong dengan campuran seledri” terbesar yang bertentangan denga cuacanya – selain dingin juga hujan yang hampir setiap hari. Jika tempe kemul atau ‘mendoan’ “tempe beriris tipis dibalut tepung terigu atau ‘istilah gorengan setengah matang’ saat digoreng” dan megono “nasi hangat yang dicampur parutan kelapa dan bahan sayuran seperti buncis, kacang panjang, dan kubis” khusus yang berbeda dengan megono di daerah Pekalongan.
            Kembali kebahasan awal, tentang bahasa tutur ‘nggere pa’, yang dapat membuat kebudayaan Kalibeber ini bisa bersinggungan dengan Pemerintahan Negara pada masa Presiden Soeharto ketika al-maghfurlah KH. Muntaha Al-hafidz ‘Mbah Mun’[4] yang monuver politiknya dapat membuat Al-Qur’an Akbar[5] untuk mengingatkan pemerintahan yang sudah lupa pada Al-Qur’an secara halus. Yang mencengangkan penulis adalah banyaknya pelajar di UNSIQ adalah pelajar pendatang luar Kota Wonosobo bahkan luar Pulau Jawa, namun kebanyakan di kota ini malah menjadi perantau – di luar Jawa seperti Kalimantan, Sumatera, Irian Jaya, dan TKI – yang disebabkan kawin muda menjadi tradisi yang belum hilang untuk daerah pedesaan.[6]nggere pa?” atau “why” atau “masak sih?”  adalah ‘pendidikan dasar’ yang merangsang kembali daya pikir manusia yang ‘berkontinyu’ bukan ‘stagnansi’ – kritis picik atau kita kenal pesimis.
Fakta yang ada untuk Pemerintahan di Wonosobo – khususnya PNS – adalah bukan penduduk asli, keluhan menjadi PNS di daerah pegunungan sering kali muncul dikarenakan kesenjangan sosial dengan pemilik tanah yang menguasainya.[7] Berbeda dengan keadaan sekarang. Namun dari pengalaman penulis sendiri yang sudah pernah hidup di Kalimatan – ketika masih SD sampai SMP – pernah melihat sendiri bagaimana kehebatan mereka – buruh di desa namun di sana ketangkasannya jangan dipertanyakan lagi – yang kebanyakan bekerja di perkebunan sawit. Begitu juga kebringasan mereka yang merantau di daerah perkotaan seperti Jakarta, mereka terkenal juga akan kekuatannya – rumor dari beberapa orang Dieng dan Wadaslintang yang pernah penulis mendatangi kenalan-kenalan orang tua dari Kalimantan dan ketika penulis ikut bekerja di Kalilembu[8] – yang mereka sendiri heran – untuk perantau yang biasa-biasa.
Akses jalan untuk ke Wonosobo juga tidak jauh dari nggere pa-nya itu. Bayangkan saja, jalan-jalan pusat penghubung Wonosobo dengan kota lain berliku-liku, yang hanya bisa dilewati oleh dua kendaraan – mobil dan truk – yang samping kiri-kanan jalan adalah jurang dan perumahan. Sampai-sampai jalan arah Wonosobo-Purworejo yang longsong – Daerah Kepil longsornya sangat curam, sekarang akses ditutup, tidak bisa dilewati kecuali lewat jalan alternatif untuk kendaran pribadi (motor dan mobil) dan untuk pemakai bus harus pindah bus setelah lewat jalan alternatif – sudah lebih dari satu tahun belum juga terselesaikan oleh pemerintah. Ini jelas sangat merugikan para distributor kapitalis jika dilihat dari kaca mata perekonomian, dan saat ini kelangkaan BBM untuk Wonosobo Kota-Dieng menjadi momok yang memperihatinkan.

Kalibeber, 14 April 2013    
 
             



[1] Jika Pondok Salaf ini terkenal dengan kekentalan tradisi lokal yang pengajarannya mengaji kitab kuning berbahasa jawa. Jika dilihat banyaknya sekolah-sekolah yang berdiri – baik negeri maupun swasta – disini dapat dikatakan sebagai salaf semi modern dengan di kuatkan adanya Universitas SAINS Al-Qur’an (UNSIQ) yang dulu sekitar tahun 2000-an masih bernama Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ).
[2] Di Desa Kalibeber ada sumber air belerang di kali serayu untuk mandi penduduk bersama-sama khusus laki-laki dari kecil sampai tua, selain yang sudah terkenal – aset pemerintah seperti pemandian dan kolam renang umum – di Desa Kalianget juga ada di atasnya Desa Manggisan.
[3] Kebiasaan ‘habit’ untuk orang tua dan anak-anak yang tinggal di dataran tinggi, seperti Dieng, Desa Dero Duwur – tempat dimakamkan KH. Asy’ari dan KH. Muntaha Al-hafidz beserta keluarga dan di sana juga dibangun sekolahan cabang SMA Takhssus Al-Qur’an yang ada di Kalibeber – ke bawah sampai Kalibeber ketika pergi bekerja, ke pasar, dan ke sekolah. Banyaknya dataran tinggi.  
[4] Sapaan akrab Beliau untuk masyarakat lokal Wonosobo, khususnya untuk Kalibeber dan sekitarnya.
[5] Penulis baru tahu sudah ada lima al-Qur’an, yang pertama diserahkan sendiri oleh Beliau kepada Pemerintah yang diterima oleh Presiden RI Era Orde Baru (ORBA). Ada juga yang sampai Pemerintahan Brunai Darussalam. Lebih jelasnya, silakan baca biografi KH. Muntaha Al-Hafidz yang ditulis Drs. Samsul Munir. Tulisan ini sebatas dari pengetahuan penulis saja.
[6] Dengan kawin muda – karena kurang minatnya anak-anak untuk bersekolah dengan alasan biaya sebab luasnya lahan pertanian “mata pencarian utama” hanya dimiliki oleh beberapa pihak, kebanyakan malah menjadi buruh – bisa membantu meringankan beban orang tua, asumsi dari pengamatan penulis. Padahal untuk Bantuan Operasi Sekolah (BAKSOS) dari pemerintah diprioritaskan untuk pelajar daerah.
[7] Ini juga penulis dapat dari cerita lisan seorang wakil kepala KUA di Kecamatan Sepuran ketika Kuliah Praktek Lapangan (KPL) bulan Februari 2013. Program KPL dilakukan Mahasiswa Syari’ah – ini berlaku untuk semua fakultas semua jurusan dan penempatannya juga berbeda menurut masing-masing fakultas (di UNSIQ Tarbiyah, Dakwah, Ekonomi, TI, AKPER, AKBID, Sastra Inggris) – di Kantor Urusan Agama (KUA) dan Pengadilan Agama (PA) selama empat puluh satu (41) hari. Masa ORBA kesejateraan dan pendidik masih kurang, pendapatan ‘gaji’ PNS dengan Petani lebih banyak petani.   
[8] Di sana ada makam yang sekarang sering diziarahi para peziarah wali setelah KH. Abdurraman Wahid ‘Gus Dur” berziarah kesana. Makam Mbah Selomanik. (http://diengtravel.blogspot.com/2012/04/ziarah-ke-makam-wali-7-di-wonosobo.html)

Minggu, 29 Januari 2012

SURAT CINTA


Ponpes al asy’ariyyah, 26 april 2011

Ribuan kali aku menyatakan cinta padamu mengapa dia yang kau terima cintanya ?
Apakah tidak pantas aku mendampingi hidupmu ?
Tidak usah kau dijawab !
Cinta memang unik dan aneh, sulit untuk diterka apalagi dipaksakan. Sekarang aku Cuma mendengar kisahmu dengan dia, meskipun hati bergejolak ingin merampasmu darinya tetapi tidak bisa. Hanya memandangmu tersenyum bersama dia suatu hal yang mengasikkan buatku. Istilah lelaki berani memilih dan wanita berani menolak mungkin cocok untuk kisah ini menggambarkan dinamika cinta dimasa remaja. Dari SMA dulu, aku sudah berusaha menyatakan perasaan ini padamu, hingga kau mempunyai kekasih pertamamu, sabar, kau pindah ke kekasih keduamu, sabar lagi, sampai kapan kau akan menolakku ?
Semakin aku bersabar semakin kuat pula aku  akan menanti. Kau sudah banyak mematahkan hati para pecintamu, luar biasa. Sadarku, kini aku memang belum pantas menerimanya, sebab mencintai diriku sendiri saja aku belum mampu. Mengembaralah kau akan cinta didalam dunia kesendirianmu, akan kau dapati titik temu yang mungkin menyadarkan dirimu kalau aku benar mencitaimu. Mengingatmu buatku sama halnya mengingat kisah cinta suci idolaku, yakni rasulallah saw dan siti Khotijah. Tetapi aku bukan Beliau yang begitu mulianya, sedangkan siti Khotijah merupakan wanita yang mempunyai talenta suri tauladan seluruh dunia. Indah, beliau memilih Rasulallah saw dengan pertimbangan yang amat mengesankan, memilih akhlak pemuda yang baik, memancarkan cahaya cinta keseluruh dunia lewat aura ke-robaniah yang dimiliki Beliau saw.  Hingga meninggal dunia pun Rasulallah saw tetap mencitai dan merinduinya mengalahkan istri-istri setelahnya walaupun dari lahir, fisik melebihinya, tidak bisa membuat surut cinta Rasulallah saw padanya.
Aku hanyalah seorang pemuda pemimpi yang hanya bisa  berkhayal akan menikmati kisah tersebut, apalagi harus seperti kisah Sulaiman as. Yang menaklukkan ratu Bulgis dengan ilmu dan kerajaan yang megah karunia dari Tuhan itu, Jangan mimpi sayang ! saran dari seorang bijak, coba kau ambil cermin yang besar di kamarmu dan bercerminlah dirimu itu, pasti kau akan melihat petapa buruknya dirimu di depan cermin.  Okey lah, jika Tuhan meciptakan kamu sebaik-baiknya penciptaan melebihi makhluk ciptaan lainnya, namun dirimu sendiri yang merusaknya dengan akhlak tercelamu, bukan ! apologi apa yang akan kamu lontarkan untuk membela dirimu dari kalimat “kamu sudah mendzalimi dirimu.”,”sudah takdir !” jawabmu. Apalagi itu, takdirmu adalah menjadi khalifatul-ard (pimimpin dunia), cih ! apa benar itu ? memimpin diri sendiri saja sudah kewalahan apalagi menjadi khalifah dunia, mana bisa !? masalah wanita seperti dia saja bisa menggoyahkan dirimu dari jalan yang digariskan oleh Tuhan, masyaallah...
“wanita cantik sekali di multazam... Amal apa jika itu kurnia ? dosa apa jika itu coba ?” sajak Gus Mus menggambarkan kekagumannya pada seorang wanita. Didunia ini wanita merupakan delema alam yang luar biasa, bagaimana bisa ? kamu Tanya. Adam as. Saja meninggalkan surga beralih ke dunia salah satunya dengan sebab wanita (siti Hawa), Rasulallah saw menguatkan hati dalam dekapan Allah swt dan wanita (siti Khotijah), kekejaman fir’aun tunduk oleh wanita (siti Aisyiyah) hingga menjadikan Musa as selamat akan murkanya, Hittler pun sama tunduk pada wanita, Soekarno, Soeharto, dan banyak lagi contoh lainnya yang Allah swt memberi kemuliaan pada wanita hingga dalam al qur’an ada surat wanita (an Nisa’). Bagaimana dengan diriku yang manusia biasa yang tidak ada tingkatan bila dibandingkan dengan mereka para tokoh dunia.
Coba kita tilik dari asal usul kejadian lelaki dan wanita, yang pertama Tuhan menciptakan Adam as sebagai manusia pertama kali, tentunya bukan sebangsa kera seperti teori Darwin cs kemudian, baru siti Hawa yang dalam kisahnya diambil dari tulang rusuk Adam as sebagai teman hidup disurga (konon Adam as kesepian sendirian di surga sebelum diciptakan siti Hawa), akankah dia yang kau pilih itu adalah jelmaan dari tulang rusukmu yang hilang ? karena Tuhan menciptakan makhluk di alam semesta ini semua berpasangan, jelasnya, lelaki-wanita, langit-bumi, tampan-cantik, cinta-sanyang, aku-dia, kamu-dia, dia-dia, dan lain sebagainya, mengingatkan kita ketika belajar bahasa Indonesia pada bab “antonym=perlawanan kata”. Dan ada lagi, bagaimana jika berpoligami atau poliantri, apa tulang rusuk kita diambil lebih dari satu ? aghhh… masalah itu masuknya ke takdir jodoh dan kodrat iradat Allah swt karena, hanya dia lah yang mengetahui tentang hal tersebut.
Apa tugas dari masing-masingnya ? kalau dalam kitab suci al Qur’an ada yang menerangkan bahwa lelaki itu pemimpinnya. Dalam prakteknya masih juga ada yang bertolak belakang dari aturan diatas, hak asasi manusia (HAM) meminta semua sama, baik lelaki dan wanita punya hak yang sama di kaca mata dunia. Padahal dari bentuk dan fungsinya banyak perbedaan, bukan ? dari postur tubuh hingga pemanfaatannya. Itu masih diperbicangkan di public belum kelar juga, gender, waris, pekerjaan, augh ah, kalau Menurutku tugasnya itu adalah untuk menjadi pelengkap hidup dari masing-masing atau the life partner. Dalam tanda kutip, yang sesuai dengan tatanan norma agama dan norma kesusilaan dong.....dalam kurung, tidak semaunya sendiri. Exemple, ingin ini ingin itu dari yang bukan milik sah kita harus di-SAH-kan, barang yang illegal dalam hukum nasional kan tidak boleh digunakan, dalam pembahasan ini tentunya “GET MARIAGGED” dengan prosedur yang sesuai dengan kesepakatan agama dan Negara.
Kembali pada pada tema di atas, yang harus malu disini siapa ? sang uswatun khasana “Rasulallah saw” menasehati kita, kalau malu itu sebagian dari iman. Jadi, yang harus malu jelas semua yang mempunyai iman dihatinya, bukan iman sang munafik lho...oleh lisan-terukir dalam hati-dipertontonkan ke perbuatan, nah itu iman yang mukmin kemudian menuju ke shalehnya amal hidup. Suka ke wanita atau sebaliknya jika belum dilegalkan harus “MALU”, tetapi pacaran sudah biasa kok yang penting tidak neko-neko saja, kayak minta tangan-pipi-dada-... dalam kurung ZINA huruf capital plus blod/tebal. Kalo Cuma lihat, sms, telpon, ngasih kado, ngirim salam, ngrim doa, makan bareng, jalan bareng, belajar bareng, blab la bla yang serba B A R E N G bagaimana ???????? kalo itu Tanya pak Ustadz saja ya !!! sebab penulis juga pingin seperti itu Cuma belum ada kesempatan saja. Geeerrhh ummmm geleng kepala berucap masyaallah plus cek cek cek...