Rabu, 05 Maret 2014

Iriku Belum Irimu



Iriku Belum Irimu
Oleh: Legiran

Malam setelah deras mengguyur desa kami, suasana dingin angin laut mengantarkan melodi ombak pantai selatan, membuyarkan kesunyian malam itu. Sekitar pukul sebelas malam, rumah Mbah Lasmi tampak sepi, hanya tinggal cucu laki-lakinya, Paijo, yang belum tidur. Ia adalah pemuda tanggung yang belum menyelesaikan kuliahnya dan berkunjung ke Desa Jati manakala boring di kos-kosan kota metropolitan tempatnya bersama teman-teman yang sama-sama lain kota. “Jo… turu, wis mbengi!” – jo, tidur, udah malam – lirih suara simbahnya mengganggu lamunannya. “urung ngantuk, mbah…” – belum ngantuk, mbah – balasnya. Biasanya jam segitu ia masih asik bercanda dengan teman satu kos atau nonton film di laptop.
 Sambil menghisap rokok kreteknya, tanpa suara manusia, bunyi-bunyian binatang malam menambah merdu. “jam segini sudah tidur. Ntar jam empat bangun untuk melakukan rutinitas biasanya.” Membayangkan rutinitas kampungnya. Ada yang ke pasar pagi-pagi buta sehabis subuh, dan ada yang sebelumnya. Mereka menbawa hasil panenan dari sawah untuk dijual ke pasar. Yang TK, SD, SMA/K, sudah ada yang siap-siap berangkat sekolah. Mereka yang tidak naik sepeda motor atau ontel, biasa menunggu minibus di depan rumah masing-masing. Sedangkan yang rumahnya tidak di pinggir jalan aspal, jalan sebentar sampai pinggir jalan. Yang naik ontel atau sepeda motor nanti jam setengah tujuhan berangkat bersama kelompoknya masing-masing. Begitu juga yang menjadi guru dan pegawai.
Dan yang pergi ke sawah, biasa jam setengah enam sebelum matahari muncul sudah berangkat. Ada yang merumput, irigasi, mencangkul, memanen, menyemprot, dan lain-lain sesuai dengan sawah yang mereka punya. Dan Paijo sendiri, sambil bermalas-malasan bangun dari tidurnya – biasa tidur di sofa ruang tamu – melihat adik sepupunya, Tini, yang baru kelas empat SD sedang asik dengan acara anak-anak di pagi hari. Apa saja kartun yang ada di tivi dia hafal – padahal acaranya ya mengulang-ulang. Sambil sarapan ditemani kartun favoritnya, entah apa namanya, aku malas menghafalnya. “sini, lihat berita!” pintaku. “mbah… Kang Paijo nakal.” Jurus andalannya jika aku menggodanya. “jo… ojo diganggu, ndak reang.” – jo, jangan diganggu, nanti ribut.” Biasa suara simbahnya melerai dari dapur. Hebatnya Tini ini adalah, sudah tahu kebiasaan sepupunya itu, kalau ditinggal pasti dipindah acara tivinya, maka ia sering membawa ramote control­-nya atau menyembunyikannya.
“aaaaaaaaaaaaach, endi remote.” – aaaach, mana remotnya? – Ia merengek sambil pura-pura nangis biar tampak aku mengganggunya. Kemudian biasa, simbah sebagai penengah. Karena terbiasa seperti itu, kadang aku mendahuluinya, “mbah… Tini nakal!” sambil melet. “enggak, mbah. Kang Paijo seng nakal.” Belanya. “hahaha…” tawaku. “lah… nangis wae!” balik ia yang kena semprot Mbah Lasmi. Ups, langsung diam ia. Kalau ia nangis, “Mbah… Tini nangis.” Langsung berhenti ia, takut diomelin. Jam enam ia pergi ke sekolah meninggalkan Paijo yang masih bermalas-malasan di depan tivi. “mbok rono nyapu-nyapu, terus adus, cuci klambine sisan, lan sarapan.” Komando simbah pada Paijo. “bocah kok klemprak-klempruk wae kerjaane. La wong aku yo wes ngemek opo-opo seng keno diemek.” Dengan semangatnya memamerkan kehebatan seorang yang berumur tujuh puluhan. Seperti robot, aku berjalan mengerjakan apa yang diperintahkan. Paman Rejo pulang dari sawah, mendekatiku yang sedang sarapan,“simbah itu tidak suka melihat orang yang nganggur. Usahakan kerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Jangan sampai nganggur.” Sarannya.
 Begitulah, semua pelajaran filosofis, sosiologis, teologis, matematika, bahasa asing, rumus ini-itu, doktrin aliran ini-itu, tidak berlaku dan kaku jika sudah berhadapan dengan simbah satu ini. Mau bantah apa coba, kinerjanya kalah langkah. Paijo yang sok intelek jika berkumpul dengan teman-teman, bisa ngoceh apa aja dengan gaya sok tahunya itu sebab buku-buku bacaan. “Hmm, kenapa aku yang muda bisa kalah dengan beliau ya?” padahal, beliau hanyalah orang tua renta yang tidak sekolah tinggi. Aku ‘kan anak kuliahan. Kenapa tubuh ini seperti lamban geraknya. Padahal, jika diamati gerak beliau begitu lamban namun, jika kita bersama melakukan pekerjaan yang sama, seakan-akan ‘dimensi waktu’ dan ‘dimensi tenaga’ ada jarak yang mengikat. Ada istilah, “pelan tapi pasti” dan kita, “boros tenaga.” Asupan makanan dengan energi yang dikeluarkan tidak seimbang; Sedangkan beliau memakan makanan dengan porsi sedikit dan energi terpakai maksimal. Ini jika dilihat dari rutinitas harian beliau dibandingkan dengan aku yang menyesuaikannya.

Kalibeber, 05 Maret 2014

Senin, 27 Januari 2014

PUISI-PUISIAN

Assalamu'alaikum, Langit, Laut, Awan, Hujan, Bumi, Angin.... dan semua yang sedang berproses.
kalian jangan menertawakan kami ya.... biarlah kami menertawakan diri kami dan kita saling menertawakan antar sesama manusia.
ssssttt.... kalian tahu tidak, masak hujan dikira tangis langit. aku tahu kalian tidak cengeng dalam tugas.
dan kalian bukan makhluk pelupa kan? hahahaha... boleh aku tertawa bersama kalian? buat menghibur hatiku yang merindu entah pada siapa
jangan marah ya.... salam buat Matahari, Bintang, dan Bulan yang sedang tidak tampak malam ini.
yang menghibur kalian siapa sih? yang ngajarin ramah ke kalian siapa sih? harmonis sekali kalian. pakai Sistem Pemerintahan ya?
kasih bocoran dong.... Belajar Politiknya di Universitas mana? Nama Dosen Tata Pemerintahan-nya siapa? ada pelajaran korupsi tidak?
satu lagi, ajarin aku merayu si dia dong! pleace.... makasih, maaf udah kayak mewancarai. good night-morning-day-afternoon...

27 Januari 2014

Senin, 06 Januari 2014

RINDU KITA

ya Tuhan, 
kami berlindung padaMu dari sifat sombong, dengki, dan sifat-sifat lainnya yang dapat menjauhkan kami denganMu. 
Bimbinglah kami agar dapat memesrai semua makhluk ciptaanMu. 
Ampuni kami.
Engkaulah Tuhan semesta alam.


Wonosobo ,06 Januari 2014

Jumat, 20 Desember 2013

Anak Pemalu



Anak Pemalu
Oleh: Legiran 

Mengamati anak kecil yang malu-malu kalo mau ketemu, biar gak malu diapakan ya? padahal jauh-jauh datang untuk pingin ketemu? dipaksa masuk tapi gak mau. Sebut saja namanya Si Udin, anak yatim piatu yang ‘harus’ dan ‘rela’ bertahan di SD di luar kota kelahirannya – ditempatkan di asrama bersama teman-temannya yang senasib. Karakter anak ini adalah ‘nekat’, padahal umurnya sekitar 9 tahun, hmm. Dia itu adik angkat dari temanku yang kemaren baru saja wisuda di UIN Kalijaga Yogya, fakultas siyasyah. Sorot mata yang ‘liar’ dan ‘manja’ mencari teman atau tempat berlabuh, meskipun hanya ditemani duduk-duduk sambil nanya apa saja yang membuatnya enjoy dari “tekanan batin”.
Penilaianku, dia lebih ‘tabah’ daripada saya yang dikit-dikit ‘galau’, meskipun harus menahan ‘tangis’ saat dihadapan saya. Saya hanya bilang, kalo mau nangis jangan kesini, masak cowok cengeng? Godaku. Padahal dalam hal ini, saya lah yang ‘paling cengeng’ jika bertemu orang tua yang hati ini sudah terpaut padanya – merasa nyaman jika disamping beliau. Namun, saya nggak ingin dia seperti itu. Nekatnya, dia itu berani berbohong pada saya, meskipun saya tahu kalo dia bohong, tapi pura-pura nggak tahu. Ditanya, “lapar?” jawabnya ‘geleng’ – penegasan enggak. “Ada perlu apa?” kejarku. “pingin sms mas suci.” Jawabnya malu-malu. Hari ini dia benar-benar malu-semalu-malunya, hanya datang di depan kamar lalu mondar-mandir sambil ngelakuin apa saja “basa-basi” menahan entah “kata apa” yang sedang disembunyikan.
Jadi, itulah saya yang “kalah di dunia nyata” hampir senasib, maaf sahabat kecilku atas keterbatasan diri ini. Semoga Allah Sang Pengayom hambaNya selalu menyayangimu, mengasihimu, membimbingmu, hingga bisa tentram hidupmu. Aaamiin ya Allah, ya Mujibasaa iliin… salam sejahtera semoga selalu untuknya, kekasih para kekasih, cahaya alamMu, Muhammad saw. ampuni kami ya Allah, 

Wonosobo, 04 Oktober 2013

Kamis, 28 November 2013

Jika Kata Bukan Nama

Ya Istiqomah, ya Hasanah, sulit banget aku menggodamu.
Hahaha, wajar lah...kau kan cantik,
Ku berusaha tuk tak putus asa mendapatkanmu.
Jandamu aku tunggu, karna aku terpesona kecantikanmu, serius !!!

Ya Fathonah yang imut dan menarik, cobalah jelaskan pada teman2 kalo aku juga cinta kamu !!!
Hahaha

Ya Uswatun Hasanah, oh cintaku. . .
kamu juga boleh kok jelasin pada mereka. Kita ingin poligami. . . .

Ya Sidiq, ya Tabligh. . .kasih tau dong mereka, kalo si Amanah itu selingkuhanku !!!
Kasihan. . .ada cemburu. . . .

Khusnul Khotimah. . .sayang. . .kok diam aja sih !?
Santai. . .kamu tetep kok cinta matiku, sampai mati deh !!!

Pak Syafa'at kelak mau dong jadi penghulu dalam ijab qobul aku & Khusnul Khotimah.
Saksinya entar para kekasih yang terkasih. Maharnya. . .yg penting pantas.

Biarin lah Mbak Jannah & para Bidadarinya cemburu. Hehehe

AKU TIDAK TAHU.


Aku tak tahu. . . 
Berlandaskan Quran atau mengenal Quran ? 
Langkahku jauh darinya. 
Nalarku kosong tidak jelas. 
Rahmatal lil 'alamin apa artinya dan yang seperti apa ? 

Bangunan megah di pelataran sawah. 
Mengais-ngais sisa tafsir pendahulu. 
Benturan peradaban melelahkan badan. 

Ku letakkan dimana Quranku ? 
Akal, jiwa, atau amalku ? 
Kepala, badan, kaki, atau tanganku ? 
Dan siapa aku dalam Quranku ? 
Muslim, yahudi, nasrani, ataukah kafir aku ? 

UNSIQ-ku, jangan bersedih ! 
Meskipun berat ku memanggulmu, Tambah beban ideologi zaman. 
Semampuku, meskipun sadar aku tak mampu. 
Terlalu agung cahayamu untuk jiwa si kerdil ini. 
Hmm. . . 

Aku tak tahu, Tuhanku. . . 
UNSIQ-ku aku letakkan dimana. 
Aku lupa.

Senin, 18 November 2013

Fantasi Visualitas




Fantasi Visualitas
Oleh:  Legiran
Sudah lama kita berbicara tentang ‘fantasi’ dan ‘visual’ yang beda dalam  arti maupun pemahaman, jelas. Namun, dengan fantasi yang dilakukan oleh akal, dapat memaparkan visualitas-visualitas yang kadang jarang dapat divisualkan. Sedangkan visual, yang benar-benar nampak oleh indera penglihat, baik berbentuk gambar, cahaya, fatamorgana, dll – coba yang di dunia pemotretan atau perfilman ditanyakan arti sebenarnya tantang ini. Karena memang tidak mampu manusia menvisualkan semua yang terlihat, kalaupun mampu, saya rasa tidak sesempurna aslinya, namun bisa mewakilkan untuk menjelaskan pendeskripsiannya.
Fantasi juga hampir mendekati ‘angan-angan’, ‘cita-cita’, ‘tindakan’, yang belum terjadi – malah bisa menjadi pengertian “visi misi”. Contoh, pelaku kejahatan itu berfantasi mendapatkan uang dan senapan di kantor polisi – jika belum dimasukan ke dalam niat dan maksud, serta dilanjutkan ‘perencanaan’, hal tersebut belum dikenakan ‘pasal-pasal’. Begitu juga dengan fantasi penulis, ingin memacarin si AU – sudah ada dalam gambaran, sampai tidur pun ngelindur dan memimpikan – kemudian udah dimasukan ke niat dan maksud plus rencana sederhana, meskipun belum kongkrit dan belum terjadi (menikah atau dinikahkan). Namun, jika ‘dipasalkan’ dan ‘dituntut’ sudah bisa. Dengan bukti, “tertulis” dan “aduan” para “saksi cinta”. Hehe  
Jika hal itu sampai terjadi, “dunia per-film-an” yang semua berfantasi jahat-jahat bisa kena pasal juga, meskipun sudah ada pasal yang mengatur tentang kebebasan “dunia pers dan film”. Karena, secara tidak langsung sudah menjadi “visualitas kriminal” yang berdampak pada “pola pikir jahat” oleh yang tidak mampu mengontrol, bukan. Dan masalah semacam itu sudah dari dulu, baik kriminalitas, asusila, dll – jangan diganti kirik-sila yo!!!. Sampai-sampai tayangan “Tom & Jerry” pun kena sanksi lho… kan mengajari anak-anak pukul-pukulan – udah dari dulu lho dibahas, aduh ‘telat’ nih tulisannya. Sampai ada demo besar-besaran untuk masalah itu, aku dimana? Makanya, buat film itu jangan dilihatkan atau divisualkan yang jeleknya aja, yang baik-baik juga ada, itu pasti. Meskipun jeleknya sedikit, itu kadang yang menjadi guru penjahat. Hmm…
Yang kadang dan sering, “kok bisa ya?” adalah kata ‘heran’ yang mesti saya lakukan. Maklum lah, hanya hidup monoton plus nonton, jadi gak pinter motorik. Wah, harus siap-siap buat surat balasan nih, kalo-kalo AU (Amalia Ulfah) menggugat aku dan melaporkan pada orang tuanya. Dengan gugatan berlapis baja, 1. Mencintai tanpa sebab; 2. Kangen gak tahu diri; 3. Pencemaran limbah hati; 4. Provokator akal plus; 5. Menyingkat nama tanpa izin lengkap; 6. dll 

November 19, 2013