Sabtu, 14 Maret 2015

BERCERMIN

"Ya seperti itu, di sini (Kalibeber) ada Mbah Muntaha, di sana ada Mbah Abdul Karim (Lirboyo), Mbah Kholil (Bangkalan), Mbah Arwani (Kudus), Mbah Dimyati (Tremas), d.l.l. yang dulunya sebagai sesepuhnya. Dan pada zamanya diakui keilmuannya, sampai sekarang diteruskan oleh penerusnya. Setiap tiap latar belakang yang berbeda jelaslah ada kelebihannya dan ada kekurangannya. Masak kita mau mengatakan mereka salah, bisa-bisa kualat nantinya. Kalau dibandingkan berat 'iman' mereka dengan kita yang sekarang, mungkin iman kita nggak ada seberat debu." beliau menjelaskan padaku dengan hati-hatinya.  

"bagaimana dengan mereka yang berbeda? baca saja sudah ngelu." tanyaku. "maksudnya mereka yang mau mengislamkan orang islam, begitu?" memperjelaskan. "ya gimana ya, kalau jaman dulu (Jaman Nabi) tinggkatan orang masuk islam ada beberapa tingkatan. sudah 1437 Tahun. berarti kita tingkatan yang ke berapa?" malah balik tanya padaku yang asyik menyimak. "waktu itu banyak sekali ruksyoh (keringanan) yang diberikan oleh Rasulullah saw untuk beberapa sahabat. baik itu ibadah mahdhoh maupun ibadah sosial." tambahnya. 

"untuk penyampaian khusus dan umum jelaslah mereka para Kiai, Ulama, Ustadz, dan sebagainya mempunyai metode masing-masing." raut mukanya serius. "jadi menurut saya benar semua." saya pun terdiam. sepertinya ini benar-benar serius, dan sepertinya beliau tahu kalau saya masih mamang dan kurang mantab. "lah kamu tidur mulu kerjaannya, hehe...." candanya sambil ngekek.

Kalau yang keindonesiaan,  sudah ada Guru Bangsa dan Guru Rakyat, yang keduanya merangkul semuanya. Mengayomi dan mempertahankan kesatuan bangsa. Kalau nggak bisa dengan alasan seagama (seiman), pakai sebangsa, senusantara, semanusia, sebenua, sebumi, dan "se-" lain-lain yang intinya menghindari kerusakkan yang besar. siapa yang nggak tahu Guru Bangsa? Guru Rakyat? dan sudah banyak berdiri lembaga pendidikan. Apalagi menjelang pemilihan-pemilihan wakil rakyat, jelas hal-hal perbedaan akan memperuncing keadaan. Kita mencari persamaannya, kebaikan-kebaikannya dari setiap yang ada. Biar tahu fungsinya masing-masing, untuk kebaikan bersama.


Malam Minggu 

Rengeng Rengen


Selasa, 13 Januari 2015

Dimensi Kehalusan Budi dan Rasa



Dimensi Kehalusan Budi dan Rasa
Oleh Abdurrahman Wahid
Di tengah kecenderungan memanasnya suhu politik, terutama menjelang dilaksanakannya Pemilu 1997 dan Sidang Umum MPR 1998 ada baiknya kita menengok salah satu dimensi kehidupan yang sangat penting namun sering kali diabaikan, yakni unsur kehalusan budi dan rasa. Kalau kita hanya terlalu banyak memberikan perhatian kepada dimensi keyakinan dan kebenaran, maka kehidupan kita akan terasa kering. Kehidupan akan menjadi sangat ideologis, sangat formal, dan sangat sarat dilingkupi oleh aturan-aturan. Padahal tidak tertutup kemungkinan aturan-aturan itu justru akan menjerat manusia dalam pola kehidupan menghadapkan satu dengan yang lain. Apabila manusia terlalu banyak memberikan tempat kepada rasio, kepada ilmu pengetahuan dan teknologi, atau kepada sikap memperhitungkan segala sesuatu an sich, maka dengan sendirinya manusia juga akan mengalami kekeringan batin. Manusia akan mengalami kegalauan perasaan. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi pada analisis para pakar terakhir ternyata tidak mampu memecahkan segala masalah yang ada. Bahkan kemungkinan ia menjadi tambahan masalah yang baru.
Setiap kali kita menemukan penemuan ilmiah yang baru, muncul pula dampak negatifnya bagi kehidupan manusia. Penemuan plastik, misalnya, semula sangat menggembirakan, karena mampu memberi fungsi yang lebih efektif, ringan, dan murah. Tetapi ternyata ujung-ujungnya mendatangkan malapetaka. Antara lain dapat menjadi penyebab tersumbatnya saluran-saluran air dan pada akhirnya menjadi penyebab banjir di kota-kota. Terakhir, teknologi kloning, dari segi iptek merupakan penemuan luar biasa, tapi ternyata sekarang mendatangkan kecemasan jika diterapkan pada manusia. Maka jika kita hanya berbangga-bangga dengan iptek semata, kita akan kehilangan dimensi kehidupan yang paling berharga,yakni adanya pengertian dalam keseimbangan hidup.
Kehidupan akan timpang manakala kita mengabaikan kehalusan budi dan rasa, jika kita mengabaikan apresiasi yang benar terhadap kehidupan. Sekalipun terkadang apresiasi itu tidak sejalan dengan ideologi dan keyakinan rohani. Sebagai contoh, seorang sahabat saya, K.H. Mustofa Bisri memberi nama mushalla di belakang rumahnya dengan Pasujudan. Nama itu diprotes dan diributkan orang. Gus Mus dianggap terlalu kejawen dan abangan.
Padahal yang dilakukannya adalah dengan kehalusan rasa ingin mencari makna kata lain yang lebih halus dan mushalla, yakni pasujudan, yang berarti bersujud kepada Allah SWT, meletakkan muka di lantai dengan menelungkupkan badan, dan merasakan diri sebagai makhluk yang paling hina di hadapan kemahakuasaan Allah SWT. Mereka yang memprotes sebenarnya dilatarbelakangi oleh minimnya rasa halus yang mereka miliki. Mereka hanya berpegang pada aturan-aturan dan kelaziman-kelaziman. Di sinilah arti penting rasa halus.
Jika kita tidak memiliki kehalusan rasa terlalu gampang terlanda kesalahpahaman. Satu contoh lagi, sekitar sepuluh tahun lalu saya merasakan kehalusan, getaran yang sangat dalam dan luar biasa, yaitu saat Muslimat NU mengadakan rapat kerja nasional di Tegal, Jawa Tengah. Pada pembukaan rakernas itu tampil ibu-ibu Muslimat dengan pakaian hijau-hijau muda, tampak asri dan anggun. Bayangan saya seperti biasanya mereka akan mengalunkan Shalawat Badr. Tetapi yang terjadi ibu-ibu itu melantunkan tembang Jawa Ilir-ilir. Apa yang dilakukan Muslimat itu di luar tradisi NU, namun memberikan kesejukan yang luar biasa. Bukan hanya pada saya, tetapi pada ibu Menteri Urusan Peranan Wanita dan Gubernur Jawa Tengah pada waktu itu. Di sinilah kita mendapati hal-hal yang halus merupakan sesuatu yang esensial dari kehidupan kita. Ternyata kehidupan itu memerlukan dimensi-dimensi yang lain.
Kehidupan kita juga tidak hanya diarahkan oleh kepastian-kepastian kebenaran ideologis, kebenaran yang formal. Kita ternyata juga memerlukan ketidakpastian, kebimbangan, kegalauan, dan kesenduan. Dalam sebuah novel berbahasa Prancis—dalam bahasa Indonesia berjudul Gerbang yang Tertutup— dikisahkan seorang gadis bemama Allisa. Dia mencintai sepupunya. Kegalauan gadis Allisa terombang-ambing oleh rasa cinta, rasa takut, dan rasa bimbang, yang akhirnya justru menghaluskan perasaannya. Membawa diri kepada kesadaran bahwa di balik semua itu yang mengacaukan, membingungkan, dan menggalaukan, tampak yang abadi, yaitu Tuhan. Karena itulah hanya orang-orang yang mendapati kebesaran Tuhan dalam konteks ini, maka bagi merekalah jalan untuk membuka gerbang yang tertutup itu menjadi sangat luas. Sedemikian besar pengaruh ketokohan dan sosok Allisa dalam diri saya, sehingga nama itu saya berikan untuk putri pertama saya. Dari sini kita dapat memahami seni dan budaya berfungsi agar hidup kita tidak terlalu serba pasti dan tidak serba benar.
Senin, 24 Maret 1997

Senin, 05 Januari 2015

BELIAU SANGAT MENGENAL TUHAN dan MALAIKAT


BELIAU SANGAT MENGENAL TUHAN dan MALAIKAT
Mr L

Bismillahirrahmânirrahîm al-hamdulillahi rabbil’âlamîn (1:1-2). Semua Malaikat bershalawat kepada nabi, kita pun dianjurkan mencontohnya (33:56) dan Semua Malaikat beserta alam semesta bertasbih padaNya. – qalû subhânakalâ ‘ilmalanâ il-lâ mâ ‘al-lamtanâ... (2:32). Sampai-sampai para Jin takut dan berkata jujur jika beliau bertanya. Allahumma shali’alâ sayyidinâ muhammad. Dianugrahi ilmu alam semesta, namun sederhana dalam membimbing. Dianugrahi kekayaan dunia akherat, namun memilih berkumpul dengan para fakir miskin tanpa menghinakan para oang-orang kaya.
Nur Fawais Saudah, sebut saja dia begitu – salah satu sahabat penulis – atau panggilah dengan  panggilan akrab yang Anda suka. Saya tidak mafhum artinya apa nama itu, tetapi saya suka dengan nama tersebut. Ia di tempat pendidikan al Quran, sering berpikir sejenak jika mengingat ungkapan Sayyidah Aisyah yang dicintai oleh Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. yang masyhur, “akhlak beliau adalah al Quran.” Sekarang tahun 2015, abad 20 M. atau tahun 1436, abad 14 H. Kemaren baru saja diperingati, 12 Rabi’ul Awwal 1436 H atau 03 Januari 2015 M. Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. bermesra dengan ungkapan, “mereka kekasihku, yang jauh dari zaman hidupku di dunia namun mengenal dan mencintaiku.” Ia ingin menghadap kepada Beliau dengan bertanya, “masihkah berlaku kalimat menggembirakan itu padaku yang berdekat dengan ‘akhlakmu’ namun bodoh dalam perilaku?”. Allahumma shali’alâ sayyidinâ muhammad.
Malaikat mencatat tanpa mengurangi berita, membagi rezeki melebihi menteri perekonomian, menggusur tanpa pandang bulu, menghukum tanpa belas kasih, memberitakan apa yang sebenarnya kabar, menjaga kemewahan dan keindahan tanpa korupsi, bertanya tanpa menerima kebohongan, bekerja tanpa mengharap imbalan. Semua penuh dengan ketaatan pada Sang Pencipta. Kembali kita menginjak bumi nusantara, kata beliau KH. Said Aqil Siroj, ketua PBNU setelah al maghfurlah KH Abdurraman Wahid ketika memperingati Maulud Nabi di Kota Batang, hadir juga Habib Luthfi bin Hasyim Pekalongan, “bumi nusantara lebih mencukupi kemakmuran 270 juta penduduk Indonesia, namun kurang untuk mencukupi satu dua orang serakah.” Begitu juga kata budayawan Muhammad Ainun Nadjib (Emha Ainun Nadjib atau Cak nun) ketika menjelaskan “Syafaat Rasul” dalam sebuah Esai di buku “Kyai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” (hlm 149-153), “bumi sepenggal sorga, tapi kita keceh di hujan (seperti anak-anak), boros, foya-foya dan memonopoli untuk menyengsarakan ratusan juta rakyat. Kita merusak kemanusiaan dalam hewani, rakus, iblisi, lahwun (senda gurau), la’ibun (main-main), dan dhulm (kegelapan).” Kemudian, “umpama memegang 200 triliyun untuk sampai ke rakyat, ada yang bilang, JANGAN....”
Asssalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarrakatuh, penulis juga pernah membaca biografi al maghfurlah KH Muntaha al Hafidz, karya Samsur Munir Amin, menceritakan bahwa Beliau pernah sekali bertemu dengan Rasullullah shalullahu ‘alaihi wassalam. ketika ziarah di makamnya. Hanya sekali, di abad sekarang yang jelas tidak masuk akal, namun hal itu tidaklah mustahil karena, sebelumnya para sahabat nabi juga ada yang pernah mengalaminya meskipun hanya dalam mimpi. Bagaimana para kiai, ulama, alim zaman sekarang, 2015, yang selalu masih bergembira menggemakan marhaban marhaban ya nurrul ‘aini... marhaban marhaban jaddal husaini...”monggo kajeng nabi, sugeng rawuh teng manah kito, teng akal kito, teng jasad kito. Ngapunten manah, akal, lan jasad kito mboten sahe. Nggeh kadhos niki.
Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. takdzim dengan Sang Pencipta, ramah dengan Malaikat, sayang dengan seiman, kasih dengan sesama manusia, tenggang rasa kepada perbedaan. Meskipun dalam catatan sejarah ada yang tertulis masalah ‘peperangan dengan manusia’, Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. juga mengimbanginya dengan penyataan ‘peperangan dengan diri sendiri’. Penyataan, perbuatan, tauladan Beliau shalullahu ‘alaihi wassalam. dengan diri sendiri, dengan keluarga, dengan saudara, dengan sahabat, dengan tetangga, dengan masyarakat, dengan bangsa, dengan antar bangsa, menjadi ilmu yang rahmatalil ‘alamin. Bahasa gaulnya, mulyo nanging mboten ngasorake liyan – mulia namun tidak menghinakan yang lain. Kenyataannya, ada yang merasa terhina akan keluhuran budi pekerti Beliau, begitu? Baiklah, itu hak Anda dalam mengoreksi. Maaf jika ada salah dan kurang sopan dalam penulisan.


Di Kamar, 04 Januari 2015.
Penulis

Selasa, 23 September 2014

Judul Pos

Kampung Ilusi 2
Mr. L 

Kemudian, mulai lagi memperhalus kalimat. "Kapan?" tanyanya. "itu jawaban, bukan pertanyaan." jawabku. "aku mulai tidak mengenalmu lagi." "iya, sejak kapan aku memperkenalkan diri?" "baik, semoga perkenalan yang tidak kau perkenalkan tidak membuatnya marah." "semoga begitu." Kami sibuk menikmati yang dapat kami nikmati, dia menikmati yang tidak kunikmati begitu juga aku - hanya terkadang, sesekali, berkontinyu, bahkan juga tak tersadari kita bersama menikmati kenikmatan yang sama. 


Kau lagi
Seperti itu
Aku
Iya, siapa lagi
Kau itu
Bagaimana
Selaraskan semampunya

"kabar ia?" seperti biasa. "dia masih seperti dulu." datar. "bolehkah aku bertanya hal yang sama?" "apa?" "apa aku membosankan, bagimu?" "hehe..., aku tidak mau menjawab." "baiklah." kami terdiam, memandangi keindahan yang sudah-sudah. "suara siapa itu?" datang sahabat lama membawa sahabat baru. "hmm, lagi serius sekali kalian." "oh, kamu."

Kabarnya
Mereka
Hmm, kita
Semakin baik saja
Kenapa kau

"kenapa mereka selalu begitu?" "oh, mereka? mereka baik kok. santai saja!" "perkenalkan, yang ini......" "aku Nur Fawais Saudah. terserah mau memanggil apa, yang baik, biar akrab." "dan itu?"

Senja Di kaki Langit.


 Penulis

Selasa, 16 September 2014

Fiktifmu atau Fiktifku



Fiktifmu atau Fiktifku
Mr. L
“Silakan masuk, kawan!”, sambil tersenyum Arai mempersilakan masuk lelaki seumurannya. “sudah lama, tambah berwibawa saja sampean, Kang.” Nada santai dari tamunya itu membuat setengah kaget Arai.  ngapunten, jenengan sinten nggeh?” penasaran. “aku Paijo, Kang.” “Paijo..... hem,”. “iya, Paijo konco kuliahmu. Asem dilalekke.” Agak sewot tamu yang satu ini. Arai merupakan salah satu orang yang terpandang di desanya, maklumlah, ia adalah penerus dari Pondok Pesantren milik orang tuanya. “sebentar ya, Mas.” Dengan santainya Arai meng-cut perbincangannya dengan Mas Paijo, lalu pergi ke belakang.

Tidak lama kemudian, ada anak muda masuk ke ruangan membawa kopi hitam dan beberapa makanan ringan. “monggo, Pak.” Ramah mempersilakan tamu untuk menikmati hidangannya, lalu tanpa pamit langsung nyelonong keluar dari ruangan. Kriiiiet.... suara pintu terbuka disambung suara khasnya, “he he he, sampean to, tak kiro sopo. Pangling aku.” Muka yang berumur tujuh puluhan masih segar bugar ditambah muka yang berwibawa. Berpakaian khas kiai kampung namun, tidak begitu tampak payah. Beda betul dengan tamunya yang masih muda, berpakaian jas berdasi. Mungkin sekitar tiga puluhan namun, kelihatan letih dan kurang bersemangat. “ngapunten, Mas. Wes tuo, agak pikun. Nyyoh, rokok set!” menawarin sambil menyulut satu batang. “wedange, Mas. nyantai ae, disambi to pangananne.

Pertemuan mereka berdua sangat asyik, Paijo yang berumur dua puluh dua bisa kuliah bareng dengan Kiai Arai di salah satu kampus yang ada di Jawa Tengah. Paijo tidak tahu jika teman sebangku kuliahnya ini adalah kiai gedhe di kampung halamannya – hanya tidak begitu populer di publik, apalagi masuk televisi. Paijo dengan pedhe-nya bertandang ke rumahnya karena Pak Arai ini adalah salah satu korban debat kusir ketika presentasi makalah di depan kelas waktu kuliah dulu. Namun orang tua ini tidak pernah cerita latar belakangnya, apalagi sampai masalah ketokohannya. Bisa dibilang beliau ajur ajer dengan kelompoknya. Padahal ia adalah yang tertua diantara dua puluh tujuh mahasiswa waktu itu – namanya juga kampus tidak populer dan di ekstensi yang kuliahnya hanya tiga hari dalam satu minggu, jumat sampai minggu.

Pak Ahmad Laraibafih terkenal paling polos di kelas, suka bertanya dan minta tolong teman-teman, dan loman. Hanya Paijo saja yang memanggilnya Pak Arai, alasannya biar gaul dan enak di lidahnya sendiri. Padahal yang lainnya memanggil Pak Ahmad. “ngopo raimu koyo wong loro ngono?” tanya Pak Arai. “kulo mboten ngertos nek Panjenengan Kiai, kaget ae pas ndolan mrene. Arep nagih utang. Biyen jenengan turene ajeng nraktir bakso nek kulo ndolan mriki.” Sudah kepalang basah, biasa Bahasa Indonesia dan nggak biasa Bahasa Jawa Halus dipaksa-paksa berbahasa jawa didepan kiai. Begitulah jadinya. “owalah, bocah kenthir. Egen eling ae bakbakan koyo ngono. Ha ha ha, aneh!.

piye, ono opo?” sambil makan hidangan. “anu, Pak Kiai. Nopo leres nek jenenge jenengan ajeng di-ndamel jeneng kampus?” jawab paijo lirih. “jare sopo?” “ngarang ae.” “He he eh.” Suara burung peliharaan Pak Kiai di luar lagi asik mendendangkan lagu-lagu gembira. Sambung menyambung berlomba-lomba menyajikan suara indahnya seperti sedang mengabarkan kabar gembira pada sang pemiliknya. “hemm, arep mbakso nang endi?” sambil menyecek batang rokoknya yang tinggal seperempat dan mengambil lagi satu batang. “nggeh kersane jenengan.” Sambil menyeruput kopi di depannya. “awoooh.... aku iki wes suwi ora ndolan-ndolan. Ra ngerti sopo sek ndodolan bakso enak. Rasane yo wes klalen.”

Jurang Mafhum , 17 September 2014

Selasa, 05 Agustus 2014

NGOBROL DI TULISAN, "RAPAT"

"Selamat malam semuanya, semoga sehat semua." "Bagaimana semua birokrasi, aman?" "Aman." "Silakan Menteri Perhubungan dan Menteri Birokrasi membacakan hasil keputusannya." "Baik, mohon maaf sebelumnya." 
"Yang Terhormat, Presiden Hati Sanubari dan Wakil Presiden Akal Sehat."
"Yang Terhormat, semua jajaran Birokrasi Jasadiyah yang hadir dalam kesempatan rapat hari ini, tanggal 05 Agustus 2014, untuk membahas kinerja Lima Tahun kedepan, 'RAKERMAS' - Rapat Kerja Manusia." 

Dari Habib Luthfi:
( http://chirpstory.com/li/222572 )
















Kemudian dari Tulisan Emha Ainun Nadjib:

( http://www.caknun.com/2014/demokrasi-dan-egomania/ )

Untuk penulisan dari penulis menyusul, entar kalo asal nulis kesimpulan dimarahi sama ahlinya, hehe. SELAMAT MEMBACA.

Minggu, 22 Juni 2014

FIRASAT DAN FILSAFAT

ilustrasi *
 
Anak-anak itu (yang penulis lihat saat mengikuti pengajian khataman di TPQ) berpidato dengan memulai salam fasih, menghafal kalimat yang disampaikan. Penonton ada yang tertawa, berbisik-bisik, dan terpukau. Tiba-tiba si anak tolah-toleh, naruh mix langsung kabur tanpa salam, tanpa merasa bersalah dan ngeluyur 'ngelendot' (pergi ke pelukan ibu - indo red) karena malu lupa teks. Berbeda di jalan, semua berjalan - baik pakai kaki, pakai ban, pakai mesin, pakai air, pakai akal, pakai media sosial, dst - mencari atau menikmati apa-apa yang ada dan dapat diterima oleh alat penerima dalam diri makhluk.

"Jangan mengadukan duka pada duka, apalagi membingungkan si bingung yang sedang bingung."
 kataku ku kata katamu kata kita kamu dan aku
ingin bahagia dunia sampai sana alam baka
bercinta menelanjangi dusta
ciuman kejujuran yang merangsang
bisikkan rayu pada rahayu
menusuk yang harusnya ditusuk
menekan dengan kelembutan pasti
berbuah rindu
mengandung gelora impian cita
melahirkan kasih sayang
kataku ku kata katamu kata kita kamu dan aku
ingin bahagia dunia sampai sana alam baka
 
"Alam Mimpi." 
 
ilustrasi **

Benar-benar sendiri malam ini, berkawan "tanda tanya" darimu. selamat pagi... maaf malam. Benar-benar berkawan malam ini, sendiri bercumbu "tanda tanya" darimu. Selamat kawan... Engkau hmmm.... Menikmati santap "pagi", mengikutimu wahai "kakasih" kami, bercengkrama dengan senyumu. Semu semua, kecuali yang tidak semu. Semoga sehat sentausa engkau wahai kekasih para kekasih dalam "manja"-Nya pemberi nikmat semua kenikmatan. sendirikah kau?
  
"Lirik matanya terketik dalam lirik lagu nirwana terlukis bias kuas siluman menari dalam akal semakin dalam menyelusuri lorong-lorong hati."
 sahabatku,
kumulai takut dengan diriku sendiri
sendi tempat kita beradu mulai mengendur
canda cairan tuk mencairkan suasana jauh disana
kau suka tekstual sedang aku suka substansi
itu tidak berarti lantas aku benci tekstual
sebab faktanya aku ngeri dengan anyir darah
meskipun darah mengaliri tubuh kurus dengan iklasnya
aku jijik dengan tahi padahal kita memproduksinya
tidak seharusnya semua kejujuran itu mesti divisualkan
Tuhan pun rela dan bersabar akan kebusukan kita
dengan menyembunyikannya tanpa bunyi
hingga kita menyucikannya
"Salam Kasihku, Untukmu"

Takbir bir bir mabuk mabuk alam dalam KEBESARANMU wahai... maksud TAKBIR kami, Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu.
Jangan Engkau hancurkan dunia fana ini ya #Allah dengan murkaMu, takbir semua makhlukMu sudah meluluh ratakan kami.

Kami mau berpura-pura mengeluarkan tangispun, Engkau menghibur kami dengan kedamaian atas penciptaan saudara-saudara untuk kami yang HAMPA.
Limpahkan kasih sayangMu pada mereka para pewaris ilmu Muhammad-Mu ya Rabb.... cahaya penyebar damai alam semesta. #Allahu_Akbar.

Kasihani kedua orang tua kami, sebab kami tak mampu membalasnya, Laailaaha illaLlahu Allahu Akbar. Allahu Akbar wa lillaahil hamd
Khususnya, mereka para guru-guru kami. harumkan air mata mereka dengan bau-bau surgaMu. Allahu Akbar wa lillaahil hamd,

Selamatkan para pemimpin kami dari murkaMu dan kejahatan makhlukMu, ampuni kami semua. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Jika takbir alam ini pengganti amin amin harapan kami, Engkaulah Yang Maha Mencukupi kebutuhan alam. #AllahuAkbar #AllahuAkbar #AllahuAkbar. (Wonosobo, 1 syawal 1434/8 Agustus 2013)


ilustrasi ***

Sedikit Rangkum OL



22 Juni 2014/23 Ruwah 1947/24 Sya'ban 1435