Kamis, 28 November 2013

Jika Kata Bukan Nama

Ya Istiqomah, ya Hasanah, sulit banget aku menggodamu.
Hahaha, wajar lah...kau kan cantik,
Ku berusaha tuk tak putus asa mendapatkanmu.
Jandamu aku tunggu, karna aku terpesona kecantikanmu, serius !!!

Ya Fathonah yang imut dan menarik, cobalah jelaskan pada teman2 kalo aku juga cinta kamu !!!
Hahaha

Ya Uswatun Hasanah, oh cintaku. . .
kamu juga boleh kok jelasin pada mereka. Kita ingin poligami. . . .

Ya Sidiq, ya Tabligh. . .kasih tau dong mereka, kalo si Amanah itu selingkuhanku !!!
Kasihan. . .ada cemburu. . . .

Khusnul Khotimah. . .sayang. . .kok diam aja sih !?
Santai. . .kamu tetep kok cinta matiku, sampai mati deh !!!

Pak Syafa'at kelak mau dong jadi penghulu dalam ijab qobul aku & Khusnul Khotimah.
Saksinya entar para kekasih yang terkasih. Maharnya. . .yg penting pantas.

Biarin lah Mbak Jannah & para Bidadarinya cemburu. Hehehe

AKU TIDAK TAHU.


Aku tak tahu. . . 
Berlandaskan Quran atau mengenal Quran ? 
Langkahku jauh darinya. 
Nalarku kosong tidak jelas. 
Rahmatal lil 'alamin apa artinya dan yang seperti apa ? 

Bangunan megah di pelataran sawah. 
Mengais-ngais sisa tafsir pendahulu. 
Benturan peradaban melelahkan badan. 

Ku letakkan dimana Quranku ? 
Akal, jiwa, atau amalku ? 
Kepala, badan, kaki, atau tanganku ? 
Dan siapa aku dalam Quranku ? 
Muslim, yahudi, nasrani, ataukah kafir aku ? 

UNSIQ-ku, jangan bersedih ! 
Meskipun berat ku memanggulmu, Tambah beban ideologi zaman. 
Semampuku, meskipun sadar aku tak mampu. 
Terlalu agung cahayamu untuk jiwa si kerdil ini. 
Hmm. . . 

Aku tak tahu, Tuhanku. . . 
UNSIQ-ku aku letakkan dimana. 
Aku lupa.

Senin, 18 November 2013

Fantasi Visualitas




Fantasi Visualitas
Oleh:  Legiran
Sudah lama kita berbicara tentang ‘fantasi’ dan ‘visual’ yang beda dalam  arti maupun pemahaman, jelas. Namun, dengan fantasi yang dilakukan oleh akal, dapat memaparkan visualitas-visualitas yang kadang jarang dapat divisualkan. Sedangkan visual, yang benar-benar nampak oleh indera penglihat, baik berbentuk gambar, cahaya, fatamorgana, dll – coba yang di dunia pemotretan atau perfilman ditanyakan arti sebenarnya tantang ini. Karena memang tidak mampu manusia menvisualkan semua yang terlihat, kalaupun mampu, saya rasa tidak sesempurna aslinya, namun bisa mewakilkan untuk menjelaskan pendeskripsiannya.
Fantasi juga hampir mendekati ‘angan-angan’, ‘cita-cita’, ‘tindakan’, yang belum terjadi – malah bisa menjadi pengertian “visi misi”. Contoh, pelaku kejahatan itu berfantasi mendapatkan uang dan senapan di kantor polisi – jika belum dimasukan ke dalam niat dan maksud, serta dilanjutkan ‘perencanaan’, hal tersebut belum dikenakan ‘pasal-pasal’. Begitu juga dengan fantasi penulis, ingin memacarin si AU – sudah ada dalam gambaran, sampai tidur pun ngelindur dan memimpikan – kemudian udah dimasukan ke niat dan maksud plus rencana sederhana, meskipun belum kongkrit dan belum terjadi (menikah atau dinikahkan). Namun, jika ‘dipasalkan’ dan ‘dituntut’ sudah bisa. Dengan bukti, “tertulis” dan “aduan” para “saksi cinta”. Hehe  
Jika hal itu sampai terjadi, “dunia per-film-an” yang semua berfantasi jahat-jahat bisa kena pasal juga, meskipun sudah ada pasal yang mengatur tentang kebebasan “dunia pers dan film”. Karena, secara tidak langsung sudah menjadi “visualitas kriminal” yang berdampak pada “pola pikir jahat” oleh yang tidak mampu mengontrol, bukan. Dan masalah semacam itu sudah dari dulu, baik kriminalitas, asusila, dll – jangan diganti kirik-sila yo!!!. Sampai-sampai tayangan “Tom & Jerry” pun kena sanksi lho… kan mengajari anak-anak pukul-pukulan – udah dari dulu lho dibahas, aduh ‘telat’ nih tulisannya. Sampai ada demo besar-besaran untuk masalah itu, aku dimana? Makanya, buat film itu jangan dilihatkan atau divisualkan yang jeleknya aja, yang baik-baik juga ada, itu pasti. Meskipun jeleknya sedikit, itu kadang yang menjadi guru penjahat. Hmm…
Yang kadang dan sering, “kok bisa ya?” adalah kata ‘heran’ yang mesti saya lakukan. Maklum lah, hanya hidup monoton plus nonton, jadi gak pinter motorik. Wah, harus siap-siap buat surat balasan nih, kalo-kalo AU (Amalia Ulfah) menggugat aku dan melaporkan pada orang tuanya. Dengan gugatan berlapis baja, 1. Mencintai tanpa sebab; 2. Kangen gak tahu diri; 3. Pencemaran limbah hati; 4. Provokator akal plus; 5. Menyingkat nama tanpa izin lengkap; 6. dll 

November 19, 2013

Selasa, 15 Oktober 2013

KAU

............

kamu tuh aduh duh duh duh
kusebut namamu lebih dari satu kali
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
ku menggoda makhluk yang satu itu
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
ku malas nulis cuma alasan hanya ini
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
"gak penting" i'm thinking think king queen
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU


Negeri Singkatan, 15 Oktober 2013


Rabu, 02 Oktober 2013

ora mudeng



Munajat sore,
Ya Allah, “anjing” dalam diri ini merasa sepi
Namun, pemburu – katanya – harus bagaimana?
Beliau beliau beliau beliau dan seterusnya
Yang menyampaikan ilmu-Mu  melalui izin-Mu
Sampaikan salam salam salam rindu ini
Banyak nasehat mereka adalah “sabar”
Ya Nabi salam ‘alaika
Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Allah, kangen, nangeng kagem sinten?
Umpami kangen kanjeng Nabi saw. Anging isin, ya Allah
Ya Nabi salam ‘alaika
Ya Rasul salam ‘alaika
Shalawat salam ‘alaika
Ya Allah, kangen, nangeng kagem sinten?
Umpami kangen Panjenengan, hmm… Engkau lebih mafhum
Ya Rasul salam’alaika
Nabi Muhammad Saw.

Perpustakaan Kalibeber, 02 Oktober 2013

Minggu, 22 September 2013

Spionase Infiltrasi Ruh Alam



Spionase Infiltrasi Ruh Alam
Oleh: Legiran 

Pagi kedua ini yang penulis lakukan ingin hidup sehat, dengan cara tidur awal lalu sepertiga malam bangun, dan ya ternyata bangun namun, tidur lagi. Maklum lah, penulis lagi ingin mencontoh orang-orang yang kuat riyadhah, hehe. Namanya juga anak-anak, yang hidup masih ingin diperhatikan dan dimanja, hmm…ternyata ada spionase alias “pemantau” yang diutus dari beberapa sahabat yang penasaran dengan ‘mulut besar’ penulis, sampai-sampai melakukan semacam infiltrasi yaitu, ‘perembesan’ atau ‘penyusupan’ dalam pori-pori penulis melalui aliran darah – amannya, untuk ‘hati’ kadang-kadang bisa masuk dan kadang-kadang enggak.
Belum lama ini penulis merasa semacam kebobolan ‘akal sehat’ sebab, terlalu jauh masuk dalam perdebatan yang unik dirasakan – bacaannya psikolog dan alam bawah sadar –, seperti apa (?) hmm, semacam ‘canggung’ atau gerogi jika berjalan dan menetap di bumi. Alasannya sepele namun ya masuk akal juga, “kita hidup di atas ‘pemakaman’ para terdahulu” yang tidak bisa kita ingkari, bukan.
Itu penulis alami setelah beberapa kali berziarah ke makam. Hingga penulis harus mengungkapkan ungkapan, “sahabat sejati adalah mereka yang tidak memerlukan nama, namun selalu berbagi” – hiiii seram juga nih, ya semacam dialog dengan hati dan akal. Tapi, ya kita jangan sampai melupakan yang masih bisa dirasakan oleh indra kita dong, hidup normal. Kayak orang gila dong, ya, emang pernah gila, gila cinta – meskipun masih setengah sadar, semacam kesurupan atau ndadi seperti “kuda kepang” dalam kegiatan tradisonal lain di bumi nusantara yang berdialeg dengan alam lain, apa ya.
 Udah dulu, masih harus ngerjakan masalah yang biasa-biasa… yang lebih dibutuhkan daripada ngurusin yang seperti itu – menurut kebanyakan orang, itu bukan urusan kita, sewajarnya saja. Masih dalam proses belajar, masih banyak masalah dunia yang belum selesai. Itu hanya semacam ‘televisi lama’ yang belum sempat diisi efek suara oleh mereka yang mafhum. Hehehe maaf kebanyakan “ngelindur”. Semoga kita semua selalu sehat akalnya, sehat hatinya, dan selalu dijauhkan dari hal-hal yang tidak kuat kita memikulnya. Aamiin ya rabbal’alamin


23 September 2013