Selasa, 15 Oktober 2013

KAU

............

kamu tuh aduh duh duh duh
kusebut namamu lebih dari satu kali
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
ku menggoda makhluk yang satu itu
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
ku malas nulis cuma alasan hanya ini
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU

kamu tuh aduh duh duh duh
"gak penting" i'm thinking think king queen
Kangen AU AU AU AU AU AU AU AU KAU


Negeri Singkatan, 15 Oktober 2013


Rabu, 02 Oktober 2013

ora mudeng



Munajat sore,
Ya Allah, “anjing” dalam diri ini merasa sepi
Namun, pemburu – katanya – harus bagaimana?
Beliau beliau beliau beliau dan seterusnya
Yang menyampaikan ilmu-Mu  melalui izin-Mu
Sampaikan salam salam salam rindu ini
Banyak nasehat mereka adalah “sabar”
Ya Nabi salam ‘alaika
Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Allah, kangen, nangeng kagem sinten?
Umpami kangen kanjeng Nabi saw. Anging isin, ya Allah
Ya Nabi salam ‘alaika
Ya Rasul salam ‘alaika
Shalawat salam ‘alaika
Ya Allah, kangen, nangeng kagem sinten?
Umpami kangen Panjenengan, hmm… Engkau lebih mafhum
Ya Rasul salam’alaika
Nabi Muhammad Saw.

Perpustakaan Kalibeber, 02 Oktober 2013

Minggu, 22 September 2013

Spionase Infiltrasi Ruh Alam



Spionase Infiltrasi Ruh Alam
Oleh: Legiran 

Pagi kedua ini yang penulis lakukan ingin hidup sehat, dengan cara tidur awal lalu sepertiga malam bangun, dan ya ternyata bangun namun, tidur lagi. Maklum lah, penulis lagi ingin mencontoh orang-orang yang kuat riyadhah, hehe. Namanya juga anak-anak, yang hidup masih ingin diperhatikan dan dimanja, hmm…ternyata ada spionase alias “pemantau” yang diutus dari beberapa sahabat yang penasaran dengan ‘mulut besar’ penulis, sampai-sampai melakukan semacam infiltrasi yaitu, ‘perembesan’ atau ‘penyusupan’ dalam pori-pori penulis melalui aliran darah – amannya, untuk ‘hati’ kadang-kadang bisa masuk dan kadang-kadang enggak.
Belum lama ini penulis merasa semacam kebobolan ‘akal sehat’ sebab, terlalu jauh masuk dalam perdebatan yang unik dirasakan – bacaannya psikolog dan alam bawah sadar –, seperti apa (?) hmm, semacam ‘canggung’ atau gerogi jika berjalan dan menetap di bumi. Alasannya sepele namun ya masuk akal juga, “kita hidup di atas ‘pemakaman’ para terdahulu” yang tidak bisa kita ingkari, bukan.
Itu penulis alami setelah beberapa kali berziarah ke makam. Hingga penulis harus mengungkapkan ungkapan, “sahabat sejati adalah mereka yang tidak memerlukan nama, namun selalu berbagi” – hiiii seram juga nih, ya semacam dialog dengan hati dan akal. Tapi, ya kita jangan sampai melupakan yang masih bisa dirasakan oleh indra kita dong, hidup normal. Kayak orang gila dong, ya, emang pernah gila, gila cinta – meskipun masih setengah sadar, semacam kesurupan atau ndadi seperti “kuda kepang” dalam kegiatan tradisonal lain di bumi nusantara yang berdialeg dengan alam lain, apa ya.
 Udah dulu, masih harus ngerjakan masalah yang biasa-biasa… yang lebih dibutuhkan daripada ngurusin yang seperti itu – menurut kebanyakan orang, itu bukan urusan kita, sewajarnya saja. Masih dalam proses belajar, masih banyak masalah dunia yang belum selesai. Itu hanya semacam ‘televisi lama’ yang belum sempat diisi efek suara oleh mereka yang mafhum. Hehehe maaf kebanyakan “ngelindur”. Semoga kita semua selalu sehat akalnya, sehat hatinya, dan selalu dijauhkan dari hal-hal yang tidak kuat kita memikulnya. Aamiin ya rabbal’alamin


23 September 2013

Sabtu, 21 September 2013

Hmm Apa Ya?



Hmm Apa Ya?
Oleh: Legiran

Setelah membaca surat al-Hijr dalam al-Qur’an hati merasa tentram, kenapa tidak (?), dalam 99 ayat, ada satu ayat yang menegaskan bahwa “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (15:09). Wow… bukan basa-basi lagi rupanya Tuhan menjamin kitab yang satu ini, pertanyaannya, kenapa kita masih saja membacanya (?) jawabannya simple, jika bukan kita yang membaca, emang agama lain mau membacanya – sambil ketawa-ketiwi –, umpama mereka membaca, ya gak masalah – toh banyak yang mengakui ‘kebagusan’ bahasa di dalamnya, bukan. 
Sebagai surat cinta dari Tuhan – untuk muslim, jika yang non muslim punya kitab sendiri  – yang di situ diterangkan menjadi surat cintaNya untuk semua makhluk. Kenapa kalimat tadi bertentangan, “untuk muslim” kemudian ditutup “semua makhluk” dan di tengahnya ada “non muslim”. Santai saja, kita baca kitab mereka juga gak dimarahi oleh mereka, “gitu aja repot (!)”, “kata siapa (?)” hehe… indahnya, kebersamaan ini. Bagaimana mereka tidak baca – memakai mereka, sebab penulis juga tidak serajin yang pembaca sangka “rajin iqro’” –, sedangkan bacaan yang lain masih antri di tempatnya masing-masing – maklum suka baca-baca bacaan “komik”.
Aktualisasi bacaan ‘tekstual’ dan ‘kontekstual’ dalam surat cinta (al-Qur’an) kata beliau, KH. Mustofa Bisri – kyai plus budayawan, setahu penulis –, “semacam tamparan bagi para pembacanya” dan jika dikaitkan dengan kontekstualnya, melihat problematika yang ada, kemudian dikaitkan dengannya, hmm. Aduh, lama-lama menjadi sok suci nih penulis, bagaimana sok suci, emang kenyataannya  begitu – dalam kesadaran nalar dewasa sekarang ini. Kembali di surat al-Hijr, yang setelah googling, teman saya bilang bahwa itu nama sebuah gunung di Negeri Samud – hayo daerah mana? Tebak tempat. Dibaca sendiri-sendiri aja ya, bagus kok, entar ada ayat yang menjelaskan bagaimana Tuhan dengan Maha SombongNya melindungi rahasia gaib dan pemberian rezeki untuk semua makhluk.
Jika diperlebar lagi tentang mufasir – ahli tafsir dari zaman dulu sampai sekarang – masih saja ada penemuan-penemuan yang ada dan keluar jika benar-benar ditelaah dan berani mempublikasikan. Mereka para mufasir – sebagaimana yang sedikit penulis pelajari – harus ada kesepakatan bersama untuk menjaga agar tidak menjauh dari tujuan surat cinta diturunkan, bukan. Baik ‘pemetaan ayat’, tetang sosial, sains, hukum, dll yang kesemuanya menuju yang namanya “akhlakul karimah” Nabi Muhammad saw. jika di sini tempat kita belajar, ada al-magfurlah KH. Muntaha al-Hafidz. Soalnya, beliau saja masih menganggap belum atau masih jauh dari apa yang disandarkan oleh muslim zaman nabi saw. dan sahabat, yakni gelar “manusia al-Qur’an”, sebagaimana yang dituturkan oleh sayyidinah Aisyah ra.
Udah dulu ya, hmm, entar dimarahi ‘syair tanpa waton’-nya manusia aneh plus presiden aneh, Gus Dur, seperti bait, “koor pinter dongeng, nulis lan maca” (hanya pintar bercerita, menulis, dan membaca). Semoga bisa jadi koreksi bersama, okey… sebagai penutup, qola huwa, “mocoho walau sak ayat” (membacalah walaupun hanya satu ayat). Dan selentingan KH. Umar Zaed, “qulhu ae lek” (al-Ikhlas saja, man). Hmm… maaf jika salah… semoga kita – khususnya yang nyumbang wacana tulisan ini – selalu dalam rahmat dan ampunNya.

Wonosobo, 21 September 2013
Salam


pengetik

Jumat, 13 September 2013

INDONESIA DALAM KETIDAKPASTIAN, “PASTI TIDAK?”



INDONESIA DALAM KETIDAKPASTIAN, “PASTI TIDAK?”
Oleh: Legiran

Hukum dan pemilihan Presiden Republik Indonesia 2014 mendatang adalah isu miring yang di-nash-kan dalam memori setiap manusia di Indonesia, baik yang ‘aposteriori negaraisme’ ataupun yang ‘apriori negaraisme’ – lima tahun sekali itu terjadi, bahasa ‘necis’-nya, pesta demokrasi. Dalam twitter dan blogger penulis, sudah pernah menulis bahwa saya mendukung KH. A. Mustofa Bisri jadi Presiden RI – hal itu penulis sampaikan karena pernah mimpi demikian, sebab ada akun twitter Trio Macan yang populer menganalisis calon presiden, dan itu pakai bukti otentik – namun, tanggapan beliau malah, “mungkin Anda sedang pusing”. Penulis pun ngeyel sambil balas, “saya kira yang pusing bukan hanya saya.” Dan fenomenal tersebut menjadi perbincangan yang panjang, sampai-sampai PBNU mengadakan Rapat Pleno di kota penulis menetap, Wonosobo, untuk wilayah Jawa Tengah.
“multi-kemungkinan”, ‘kata ngawur’ yang penulis sampaikan kepada akun Sudjiwotejo – Ki Dalang yang sering nongol dengan massanya Presiden Jancuker – yang ternyata mendapat tanggapan ‘bocah caper’ alias anak yang cari perhatian. Kejadian itu berlangsung sebelum puasa kemaren, ya sekitar bulan Juni – kalo nggak salah – yang lalu. Alasan penulis simple, “mbok kalo cari presiden ya yang nggak kedun-yan (gila dunia)”, melihat hidup beliau sezaman dengan Presiden RI keempat yang ber-title  ‘KH’ (Kyai Haji). Masalahnya, mau milih Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) – budayawan plus penulis – , malah ‘urakan’ orangnya, jelas nir-minder penulis. Prediksi penulis, kalo zamannya KH. Abdurraman Wahid (Gus Dur) yang dibubarkan adalah Departemen Sosial, takutnya, Cak Nun (sapaan akrab Emha Ainun Nadjib) malah membubarkan Presiden Republik Indonesia – padahal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menganut Demokrasi Presidensial.
Wah, penulis mulai ngawur nih. Khasnya, calon presiden itu harus punya kendaraan partai untuk mengusung mereka, kalo nggak punya kendaraan mbok diajukan secara voting, temanya, Presiden Ad-hock – seperti teater Cak Nun, Nabi Ad-Hock. Nah, inilah yang namanya membicarakan “mantan” itu menyakitkan, sebab – alasan populer di remaja – slogan “mantan buang pada tempatnya” – bergambar tempat sampah, ironis sekali. Ya udah, penulis tinggal cemes aja pakai istilah, “JASMERAH”, Jangan Lupakan Sejarah – coba bayangkan jika Cak Nun dan Gus Mus jadi Presiden dan Wakil Presiden! Penulis jamin, zaman Reformasi Negaraisme “pasti” sedikit reformis lagi dibandingkan reformasi sebelumnya – itu jika kita berdoa semua, dan membantu. Caranya? Jangan tanya penulis, dong, ‘kan belum jadi sarjana, jadi, belum ada “nilai kepastian” yang bertentangan dengan “ketidakpastian”. Kuliahnya jurusan Hukum Islam, Ahwalus Sahsyiah, bagian “perkawinan” namun, masih jomblo.
  Apologi awam anak bodoh seperti penulis ini, mereka berdua itu sudah bosan hidup “kangen pada Sang Pencipta”, kapan lagi kita yang muda-muda punya ‘mimpi indah’ menikmati negara damai – buat referensi dan uswah kami yang mungkin duluan ‘banyak pengkhayal’ alias ‘mayat hidup’ atau zombei (orang bodoh itu ibarat mayat hidup – kata pepatah kuno). Sedangkan masalah “hukum”, ‘kan sudah ada Indonesia Lawyer Club (ILC), ditambah Perguruan Tinggi Hukum dimana-mana sudah banyak meluluskan sarjana hukum, bukan. Dan lagi, di dunia ini tidak hanya ada satu negara, masak kerja keras Gus Dur tidak diteruskan – siapa yang tidak tahu Presiden Pelancong Manca Negara yang hanya sebentar jadi Presiden tapi berani mengata-ngatain atau menyetempel D-PR M-PR seperti Taman Kanak-Kanak (TK). Mereka berdua – menurut penulis – sedang malu-malu kucing, bahasa orang tua, tawadu’ (rendah hati) – dan jika ditanya siapa yang pantas jadi Presiden, mereka serentak jawab, “yang muda”.

Wonosobo, 13 September 2013